CERPEN : Kedai Martabak
Semilir angin berhembus. Matahari bersinar baik hari ini. Tidak terlalu terang dan panas penyengat. Juga tidak mendung kelam. Beberapa daun jatuh dari pohonnya. Melenggok di udara sebelum akhirnya jatuh menghujam tanah. Tawa canda riang terdengar di beberapa tempat. Entah itu terbahak bersama teman, keluarga, maupun pasangan. Semua yang ada di taman itu nampak bahagia serta ceria. Kecuali aku, mungkin. Sudah hampir setengah jam aku duduk disini. Memperhatikan beberapa kegiatan yang sedang dilakukan orang-orang sekitar. Menunggu sosok itu datang. Berkali-kali sudah aku menghela nafas panjang. Menahan air mata yang hendak keluar. Kejadian tadi malam terlalu menyakitkan. Saat aku memandang gerbang taman, lewat seorang penjual martabak mendorong gerobaknya. Semakin jelaslah ingatanku dengan peristiwa menyakitkan itu. ***** Kak Vira, kakak kandungku satu-satunya sedang hamil muda anak pertama. Tadi malam tiba-tiba ngidam berat denga...