Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Nyampah.

Gue nggak tau harus kayak gimana lagi dan ngomong apa lagi sekarang. Semuanya keliatan buruk. Bahkan gue merasa bahwa kali ini gue semakin menyakiti diri gue sendiri. Siapa yang nggak mau dicintai? Gue yakin, sebenci apapun orang sama orang, seskeptis apapun orang mandang cinta, semales apapun orang berurusan sama cinta, mereka sebenernya mau kalo dicintai. Tapi kalo dicintai cuma sekedar..... pengganti? Gue yakin, orang yang demen cinta-cintaanpun nggak mau ada di posisi itu. And yah... here i am. Gue yang sekarang udah beda sama gue yang kemaren. Gue harus melewati fase-fase ini lagi. Fase dimana gue bener-bener berat dan sulit buat melangkah, fase dimana gue capek dan nggak mau terlibat cinta, fase dimana gue mengutuk diri gue sendiri karena udah bersikap bodoh sebelumnya. Gue secara tidak langsung membiarkan diri gue terperosok ke dalam lubang yang sama. Hanya karena sebuah harapan. Gue sayang dan gue tau betul diri gue sendiri. Hubungan kayak gini, semakin lama akan ...

Hidup sebagai introvert

Gue nggak tau harus mulai cerita darimana. Gue rasa otak gue lagi kayak benang kusut yang bakalan sulit gue uraikan sekarang. Semuanya terlalu complicated. Berhimpit dan bikin sesak. Bahkan nyampe membuat tidur gue nggak karuan. Tadi malem, mungkin gue cuma tidur sekitar 3 jam. Gue emang secemas itu kalo lagi ada sesuatu yang menggangu fikiran gue. Gue nggak bisa dengan mudahnya menidurkan diri gue dan bilang bahwa semuanya bakalan baik-baik aja meski nyatanya gue nggak tau apakah bakalan baik-baik aja atau enggak. Dan yang paling mengerikan adalah, ketika gue membenci diri gue sendiri. I know. Aneh. Gue selama ini kayak semacam suka membelah diri gue sendiri jadi beberapa bagian. Yang kalo gue lagi salah, diri gue yang lain bakalan ngomelin gue habis-habisan. Bakalan mengutuk diri gue sendiri dengan rutukan yang macem-macem. Entah. Bahkan, gue sempet pernah ada di fase dimana gue menganggap bahwa mati adalah sesuatu hal yang tidak begitu buruk daripada kehidupan.  Menjadi se...

Ikhlas

Sebelum gue berangkat ujian, gue mau ngomong dulu ke diri gue sendiri bentaran. Tentang apa yang gue rasa, tentang apa yang gue khawatirkan,  dan tentang apa yang amat sangat gue takutkan. Ini sebenernya adalah kali pertama gue menaruh harapan besar pada seseorang. Karena sikap dia yang pernah baik banget ke gue, dan gue merasa berhutang banyak atas semua hal yang dia lakukan. Gue jadi takut kehilangan dia. Gue jadi nggak mau ke siapapun selain sama dia. Dia pernah memperlakukan gue dengan sebegitu hati-hatinya, nyampe sekarang yang akhirnya selalu mempertahankan egonya. Gue tau, dia manusia. Tapi, yang sering gue herankan adalah, kalo dia tau dia berat untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dia terus lakukan, untuk apa kemarin pernah melakukan hal-hal yang nggak pernah sedikitpun gue minta. And here i am now. Setelah perdebatan panjang, gue bergeming di kalimat yang dia kasih ke gue. Mungkin dia ada benernya. Bahwa gue dan dia sulit sepaham dan mungkin nggak akan pernah b...

Ngomong sendiri #2

Gue lagi pengen ngebacot aja. Nggak tau nih mau bahas tentang apaan. Gue mau membiarkan jari-jari gue bergerak sendiri #azegh Oh iya, mulai hari ini, gue mulai mempraktekkan membuang gps dan mulai menjalani hidup gue tanpa rencana. Meskipun gue juga ada persiapan, tapi gue nggak menjadwal secara struktur di umur sekian di hari sekian harus sekian. Nggak. Jadi gue tuh semacam bebas yang terstruktur gituloh. Ah gue ngomong apaan si. Tapi intinya gitu lah. Random, tadinya gue nggak berniat buat lari pagi karena yaaa gue agak kurang tidur malemnya, kemudian sekitar jam 7an masih belom pulang. Tapi setelah difikir-fikir, gue memutuskan buat lari. Dan alhasil lah gue lari siang. Kesananyapun nggak jalan. Naek grab. Disana, gue lari ya lari aja. Nyampe setelah putaran ke sekian, pas tadinya gue mau pulang, gue liat temen sekolah gue. Yang cewek nggak sekelas, yang cowoknya sekelas. Dan long stroy short, akhirnya gue ngobrol sama mereka. Dan diajak renang.  Yaudah. Gitu. Renangla...

Ngomong sendiri

halo! Malem ini random banget. Gue lagi ada di rumah kakek. Wifian. Sendiri. Gatau nih manusia-manusia pada kemana semua. Tapi intinya mereka pasti pada sibuk sama urusannya masing-masing. Gue nggak tau harus cerita apa. Barusan, tadinya gue mau nulis. Tapi gue bingung mau nulis apa. Dan akhirnya gue nonton videonya Gitasav yang morocco. Liputan buat acara muslim traveller di net TV buat bulan puasa nanti. Dan.. yah. Nggak kerasa bentar lagi bulan puasa. Bulan puasa kali ini, SMA gue udah selesai. Kayak tanggung. Ada di tengah-tengah. SMA udah kelar, tapi kulaih belom masuk. Mungkin ini yang namanya setengah pengangguran. Penghasilanpun pasti nggak ada. Karena gue nggak masuk sekolah. 2 bulan lagi bulan puasa... sekarang udah memasuki rajab. Nggak kerasa, 2018 udah gue jalani selama 3 bulan. Rasanya kayak baru kemaren taun baruan 2018. Gue buat dan nulis tujuan serta janji-janji gue buat diri gue sendiri yang entah gue sendiri nggak tau apakah gue bakalan bisa menepati semu...

Menemukan.

Beberapa hari ini gue sering merenung tentang banyak hal. Gue lagi penasaran sama apa yang ada di sekitar gue. Seperti halna batita yang masih belajar dan nggak tau apa-apa, gue pun sama. Cuma beda konteksnya aja. Mengenai politik, mengenai keimanan gue, mengenai aturan-aturan yang secara nggak sadar udah sering gue jalani tanpa tau makna yang sebenarnya gue melakukan kalo itu tuh apa. Gue mulai berfikir banyak. Termasuk tentang Tuhan gue, agama gue. Jujur, belakangan ini seperti ada rasa penasaran yang membelenggu, tapi diselimuti oleh rasa takut. Gue nggak nanyain ke siapa-siapa karena gue takut dikafirkan oleh orang yang gue tanyai. Termasuk orangtua gue. Orangtua gue adalah tipikal orangtua yang memegang teguh ajaran agama. Itulah yang menjadikan mereka seakan memiliki prinsip 'gapapa nggak berprestasi, seenggaknya anak-anaknya jadi anak yang sholeh dan sholehah'.  Orangtua gue bakalan lebih marah kalo gue nggak sholat daripada nggak sekolah. Merek...

LET PEOPLE ENJOY THEIR LIFE.

Gue sering denger, katanya penduduk Indonesia adalah penduduk yang paling ramah diantara penduduk-penduduk negara lain. Dan bagi gue, orang Indonesia bukan Cuma sekedar orang yang ramah, sekaligus orang yang terlalu peduli sama urusan oranglain yang bahkan nggak ada urusannya sama dirinya sendiri. Wajar sih, beberapa orangtua masih ‘menurunkan’ tradisi buruk ini ke anak-anak mereka. Salahsatunya dengan nuntut anak-anaknya buat terus berprestasi biar nggak malu-maluin kalo cerita-cerita pas lagi lebaran sama keluarga besar. Biar bisa dibangga-banggain ke orang-orang ‘anak gue gini loh, anak gue gitu loh, udah bisa ini loh, ranking ke sekian loh’ dan hal memuakkan lainnya. Dan sang anak akan merasa bangga kalo sekalinya udah digituin sama orangtuanya. Kemudian terus berlanjut ke generasi seterusnya. Terus berlanjut ke anak-cucunya. Seperti lingkaran setan yang nggak tau kapan putusnya. Kecuali kita sendirilah yang memutuskan lingkaran setan itu. Gue sendiri mengalami kon...