CERPEN : Kedai Martabak
Semilir angin
berhembus. Matahari bersinar baik hari ini. Tidak terlalu terang dan panas
penyengat. Juga tidak mendung kelam. Beberapa daun jatuh dari pohonnya.
Melenggok di udara sebelum akhirnya jatuh menghujam tanah.
Tawa canda riang
terdengar di beberapa tempat. Entah itu terbahak bersama teman, keluarga,
maupun pasangan. Semua yang ada di taman itu nampak bahagia serta ceria.
Kecuali aku, mungkin.
Sudah hampir
setengah jam aku duduk disini. Memperhatikan beberapa kegiatan yang sedang
dilakukan orang-orang sekitar. Menunggu sosok itu datang. Berkali-kali sudah
aku menghela nafas panjang. Menahan air mata yang hendak keluar.
Kejadian tadi
malam terlalu menyakitkan. Saat aku memandang gerbang taman, lewat seorang
penjual martabak mendorong gerobaknya. Semakin jelaslah ingatanku dengan
peristiwa menyakitkan itu.
*****
Kak Vira, kakak
kandungku satu-satunya sedang hamil muda anak pertama. Tadi malam tiba-tiba
ngidam berat dengan martabak. Kak Kemal suaminya adalah seorang pelaut. Jadi tak
mungkin malam-malam sengaja pulang dari lautan membawakan martabak untuk
kakakku.
Karena ayah
pergi ke rumah teman lamanya karena suatu urusan, adik sudah tidur dan mamah
khawatir, jadilah aku yang pergi membeli. Ada kedai yang khusus menjual
martabak tak jauh dari rumah. Cukup berjalan 10 menit sampai. Untunglah belum
terlalu larut malam, jadi kemungkinan besar kedai martabak itu masih buka.
Agar tidak
terasa kesepian karena aku pergi berjalan sendirian, aku berjalan sambil chat
dengan pacarku, Fandy. Namun tak bertahan lama. Chat seterusnya terpaksa
dihentikan karena Fandy bilang ia sedang asyik main game bersama adiknya di
rumah. Karena tak ingin mengganggu aku meneruskan berjalan sembari menatap
pemandangan jalan yang bisa terbilang cukup ramai.
Kedai martabak
itu ramai sekali saat aku sampai disana. Ada mas-mas yang sedang
berteriak-teriak menyebutkan pesanan, memutar-mutar adonan, menggoreng, hingga
pelayan yang mengantarkan martabak ke meja-meja pesanan. Martabak di kedai ini
memang terkenal enak. Coklat yang ada di dalamnya meleleh sempurna. Untuk
martabak telur juga tak kalah nikmat. Daging yang ada di dalamnya matang dengan
pas. Setiap hari kedai ini seperti tak pernah kehabisan pelanggan. Semua
pegawai yang bekerja di kedai ini sibuk melayani pembeli yang tak pernah habis
bahkan terus bertambah. Apalagi malam ini, malam minggu. Banyak pasangan
muda-mudi berseliweran di kedai. Jadi bisa di pastikan, aku akan lebih lama
berada di kedai ini untuk menunggu martabak yang kupesan datang.
Setelah memesan
martabak yang di inginkan, mataku mulai liar mencari tempat duduk kosong untuk
duduk dan menunggu martabak milikku matang. Saat mencari kursi yang kosong
itu-lah, aku melihat sosok yang kukenal. Duduk di sudut kedai bersama seorang
perempuan. Menikmati martabak coklat dengan mesra.
Aku meraih
handphone dalam saku. Mencoba chat Fandy. Memastikan dan bertanya sedang apa ia
sekarang. Beberapa menit dan aku tak kunjung mendapatkan balasan. Dadaku mulai
terasa sesak saat melihat lelaki yang duduk di sudut kedai itu menyuapi
martabak pada gadis di hadapannya.
Tidak. Fandy
jelas-jelas sedang main game di rumahnya. Bersama adiknya. Tidak mungkin ia
berdusta. Fandy laki-laki baik. Dan aku tahu itu.
Namun, chat
dariku yang tak kunjung di balas itu membuat kecurigaan dalam hatiku meningkat.
Walau sebelah hatiku terus berusaha menenangkan dan berfikir baik tentang
dirinya. Aku geram. Maka, aku tekan tombol call sembari masih menatap meja yang
terletak di sudut kedai.
Lelaki yang
duduk di sudut kedai itu meraba-raba celananya. Mengeluarkan handphone dari
sana. Kumohon Tuhan, semoga ini hanya kebetulan saja jika pria yang ada disana
itu ada juga yang menelfonnya. Lelaki itu lantas seperti berbisik pada wanita
yang ada di hadapannya. Berdiri. Lalu beranjak pergi.
“Hallo bey, aku
masih asyik main game dengan adik. Adikku hebat banget! Aku kalah loh” Suara
Fandy, di dalam handphone.
Dan aku
mendengar seorang lelaki berkata demikian, persis seperti yang diucapkan Fandy
dalam handphone. Namun bedanya, aku mendengar suara itu pada seorang lelaki
dengan langkah terburu-buru lewat di hadapanku.
*****
Akhirnya, sosok
yang kutunggu datang.
Lelaki itu
berjalan dengan senyuman lebar. Namun senyum lebarnya meredup dan air mukanya
yang cerah memburam saat melihat wajahku yang mungkin terlihat sedikit pucat.
“Ra, lo gapapa
kan?”
Aku menggeleng.
Air mataku sudah benar-benar mengambang sekarang “Terlalu pedih, Fan.” Dan air
mata itu menetes. Aku menyekanya cepat-cepat.
Lelaki itu
menghela nafas berat. Menatapku prihatin, atau mungkin kasihan. Ada raut ngga
tega disana. “Coba ceritakan dengan detail kejadian tadi malam. Lalu aku akan
menilai, siapa sebenarnya penjahat dalam ini semua.”
Setetes air mata
jatuh lagi. Kali ini mengenai tangan. Dan aku membiarkannya mengalir begitu
saja.
*****
Panggilan
ditutup setelah Fandy izin pamit karena ia hendak tidur.
Cukup, aku tak
lagi mau bersandiwara. Aku menghampiri lelaki yang sedang berdiri di luar kedai
martabak. Lelaki yang beberapa menit yang lalu lewat di hadapanku sembari
berkata “Hallo bey, aku masih asyik main game dengan adik. Adikku hebat banget!
Aku kalah loh” dan memang bukan kebetulan lagi, lelaki yang ada di luar kedai
itu sudah selesai menelfon pacarnya dengan alasan akan pergi tidur duluan.
Bah!
Kalau saja aku
ikuti nafsu, kalap oleh luka, akan kucakar wajahnya saat itu juga. Namun, aku
tak memilih itu semua. Dengan tenang menghampiri lelaki itu dan berkata “Hai
Fandy, lagi kencan ya?” sambil
tersenyum lebar.
Dan kau bisa
tebak, wajah Fandy saat itu juga bak maling yang tertangkap basah oleh warga.
Menatapku seperti menatap setan yang amat menyeramkan. Bibirnya pucat. Keringat
mulai keluar dari dahinya.
“Kau bayar dia
berapa? Cantik juga. Sewa dimana? Mungkin nanti aku juga bisa menyewanya. Atau
bahkan membelinya.” Aku tertawa getir. Menyentuh ujung mata yang mulai berair.
Wajahnya mulai
memerah. Tangannya mulai mengepal.
“atau kau yang
dia sewa? Apa yang kuberikan belum cukup banyak hingga kau meminta padanya?
Mungkin bulan depan aku perlu memberimu beberapa tambahan agar kau puas.” Aku
semakin pedas menyindir. Mata Fandy terlihat semakin geram. Dan aku semakin
tertawa masam.
Sebelum Fandy
berkata, abang-abang penjual memanggilku. Memberikan martabak yang sudah matang
dan di bungkus untuk dibawa pulang. Aku menyerahkan uang pas. Mengucapkan
terima kasih sebelum langsung melangkah pulang tanpa mempedulikan Fandy yang
menatapku dengan muka marah.
Namun, sebelum
aku benar-benar beranjak pergi, Fandy memegang tangan kananku erat. Aku menoleh
namun tidak menatap wajahnya. Kutatap dingin tangannya yang tanpa dosa memegang
tanganku begitu saja. Lalu, aku mendengarnya berbisik.
“Besok.
Cafeteria tengah kota. Jam 7 malam.”
Aku mengibaskan
tangan. Menatap sinis sekejap. Pulang.
*****
Angin sore
berhembus semakin kencang. Kursi taman di sebelah kami sudah kosong. Tadi, ada
seorang gadis membaca buku disana. Asyik sekali hingga sesekali ia tertawa
sembari menatap bukunya.
Lelaki di
sampingku kini menatapku khawatir. Sepanjang cerita, aku tak henti-henti
menangis. Satu air mata menetes, aku usap. Namun tak lama kemudian menetes
lagi. Hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkan air mata itu terus mengalir
di kedua pipiku.
“Jadi, lo mau
ketemu sama dia, jam 7 malam sekarang?”
Aku mengangguk.
Lelaki di
sebelahku menghembuskan nafasnya. Menggaruk leher belakangnya. “kau mau
mengakhiri hubungan dengannya?”
Aku diam.
“nanti disana,
coba dengarkan penjelasannya. Barangkali itu mungkin sahabatnya, atau bisa jadi
teman kecilnya. Berfikir positif, Ra. Kau harus berfikir positif agar fikiranmu
tenang dan rasa sesak dalam dirimu akan sedikit berkurang. Percayalah padaku.”
Ia mencoba menenangkan. Wajahnya terlihat semakin cemas saat tangisku seperti
hendak meledak namun kutahan.
Seluruh wajahku
memerah. Kejadian tadi malam terlalu menyakitkan untuk kuingat. Apa Fandy tidak
bahagia bersamaku hingga dia mencari oranglain? Apa dia bosan? Apa dia lupa apa
saja yang telah aku lakukan selama ini untuk dirinya? Atau yang lebih parah
lagi, apa dia jatuh cinta lagi pada gadis lain?
Jatuh cinta
lagi.
Aku melirik jam
tangan yang ada di pergelangan tanganku. Sudah pukul 5. Aku beranjak dari
kursi. “Udah jam 5. Gue balik ya.” Aku pamitan padanya. Lelaki yang duduk di
kursi taman bersamaku tadi melongo. Lalu kemudian mengangguk.
“Makasih udah
mau dengerin cerita gue, Irfan. Lo emang sahabat yang baik.”
*****
Aku menggunakan
dress hitam dengan renda bunga putih sederhana di pinggirnya. Dress yang
sederhana yang diberikan Fandy saat ulangtahunku yang ke tujuh belas. Tanpa
ulasan make up, aku pergi menuju tempat yang di janjikan. Atau mungkin lebih
tepatnya tempat yang Fandy inginkan.
Saat turun dari
mobil diantar Irfan, sudah nampak jelas dari jendela luar Fandy sedang duduk
menunggu disana. Menggunakan kemeja biru rapih serta celana hitam. Tangannya
terkepal dan ekspresi wajahnya terlihat kesal. Aneh, penampilan serapi itu
dirusak sempurna oleh mukanya yang kusut. Aku tersenyum pada Irfan sebelum
melangkah masuk memasuki Cafeteria.
Pintu cafe
kudorong perlahan. Ada bunyi bel yang berlonceng khas saat setiap ada yang
mendorongnya. Memberikan tanda bahwa ada pelanggan baru yang masuk. Beberapa
pelayan sempat tersenyum padaku. Dan saat aku menoleh pada meja yang diduduki
oleh Fandy, aku merasa seperti daging mentah berjalan yang ditatap sangar oleh
harimau kelaparan.
Baru beberapa
detik aku menarik kursi, menaruh tas di atas meja, dan duduk, tanpa salam
apalagi say sayang, Fandy dengan tangan yang terkepal penuh amarah mendaratkan
tonjokannya tepat pada pipi kananku yang tak berbalut make up. Darah mengalir
keluar dari bibir. Aku mendengus. Menyesali mengapa tadi aku tidak memakai make
up yang tebal untuk berjaga-jaga. Jadi, kalaupun Fandy menghantamkan tangannya
padaku seperti tadi, aku tak perlu khawatir darah keluar karena sudah di
bentengi oleh make up sebelumnya.
Aku merasa waktu
saat ini telah terhenti. Pelayan-pelayan yang mengantarkan pesanan juga ikut
menoleh dan meneliti apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang yang ada di sekitar
meja menoleh. Orang baru datang bukannya
ditanya kabar malah dikasih tonjokan. Super sekali.
Aku diam. Kali
ini menatap dingin Fandy yang nafasnya tak terkendalikan. Dadanya naik turun
dengan cepat. Tangannya masih terkepal. Aku tak takut jika ia hendak kembali
meluncurkan tonjokannya padaku. Namun, aku ingin bertanya apa yang telah
kuperbuat hingga aku yang baru saja duduk sudah diberi hadiah besar darinya.
“Kau perempuan
brengsek!!! Berani-beraninya kau mengira aku menjual diriku. AKU TAK SEMUDAH
ITU, wanita murahan!” Fandy berkata bak orang kesetanan. Aku berfikir mungkin
urat nadinya sudah lepas sejak kemarin malam. Lihat saja, jika kau berada di
cafe ini dan kau orang yang normal, mana ada coba orang sehat berkata pada
orang yang justru jelas-jelas duduk di hadapannnya dengan berteriak-teriak?
Menghabiskan energi saja bukan?
“Kau mau uang?
Aku bisa memberimu lebih banyak dari wanita itu” Aku bertanya sinis. Meraih
tasku yang ada di atas meja di hadapanku. Mengeluarkan beberapa lembar uang
seratus ribuan. Menaruhnya tepat di hadapannya.
Dia menatapku
semakin geram. Walau wajahnya tampan memesona, jika sedang seperti kesetanan
seperti itu, percayalah pengamen miskin sekalipun tak akan mau bersanding
dengannya. Atau bahkan sekedar mengobrol ringan. Menakutkan.
Lalu Tuhan, dia
dengan anarkis meraih dan mencekek leherku. Tanpa tedeng aling-aling kembali
berteriak-teriak “JANGAN PERNAH MENGANGGAP AKU LELAKI MURAHAN!!!”
Sambil bersusah
payah melepaskan tangannya dari leherku, sembari tersenyum tulus aku berkata
padanya “Putus.”
Dan entah ia
mendapat hidayah darimana, Fandy seketika melonggarkan tangannya dari leherku
perlahan-lahan. Menatapku dengan mata berair dan meminta kasihan. Aku kembali
menatapnya. Tatapan datar.
Benci? Bahkan
untuk marahpun tidak.
Takut? Oh, untuk
apa aku takut pada orang seperti dirinya?
Lalu, mengapa
aku tidak melawan saat ia menonjok pipiku atau bahkan mencekik diriku?
Karena aku
berfikir dan tidak gila. Untuk apa membalas hal gila dengan hal gila pula?
Bukankah itu sama saja kita juga seperti terlihat gila seperti dia?
Dendam? Tidak.
Bahkan aku sudah memaafkannya sejak kejadian di kedai martabak.
Tapi kata putus
yang ku ucapkan tetap. Walau aku kini melihat Fandy menangis tersedu tepat di
hadapnku. Memohon dan berkata bahwa tadi ia sungguh merasa khilaf. Aku
memberikan senyum terbaik untuknya. Mengucapkan terimakasih, lalu pulang tanpa
pamitan.
Karena aku tahu
Cinta sejati itu saling memperjuangkan secara sabar bersama sama. Bukannya malah yang satu sabar,
dan yang satu tak sadar-sadar. Jelas sekali itu bukan cinta sejati.
***************************************************
Komentar
Posting Komentar