Postingan

Menampilkan postingan dengan label Words

Tidak pernah mudah dengan menjadi berbeda

Saat ini saya tengah ada di sebuah kafe kopi kecil dekat rumah. Menenangkan diri walau awalnya harus berbohong pada mamah. Tadi siang entah mengapa pikiran saya tiba-tiba dirasuki oleh sesuatu yang membuat saya ketakutan. Ketakutan dan bertanya-tanya lebih tepatnya. Iya. Saya takut dengan karena menjadi diri saya sendiri, saya tidak bisa sukses seperti orang di kanan dan kiri saya. Hanya karena saya berbeda, nantinya tak akan ada satu perusahaanpun yang mau menerima saya untuk bekerja bersamanya. Saya takut di masa depan nanti saya tak bisa menjadi apa-apa ketika saya menjadi diri saya sendiri. Diri saya yang ternyata lebih suka menjalani kehidupan dan segala hal sendiri. Kemana-mana sendiri. Menjalani aktifitas sendiri. Membatasi gerak dan hadirnya oranglain dengan porsi yang sedikit. Lebih sering bersama buku, menuliskan pikiran yang kusut, serta dipeluk oleh segelas kopi yang tak pernah memukul. Tapi tidak. Tidak dan tak akan pernah mudah. Jalannya lebih berliku ...

Tentang Menulis dan ucapan terimakasih

Setiap ditanya gimana caranya nulis, gue selalu bilang hal yang sama; nulis aja. Iya. Gue gak ada cara khusus yang menggerakkan gue untuk menuliskan sesuatu. Gue gak ada minuman atau makanan spesial yang bisa membuat gue lancar untuk menuangkan perasaan. Untuk urusan kopi, gue hanya minum untuk kebutuhan diri. Kalo lo perhatikan, tulisan gue bentuknya selalu urakan. Seringnya gak runtut. Mencla-mencle enggak jelas. Inilah yang menjadi keraguan gue untuk meng-uang-kan hobi gue ini. Setiap gue bercerita, gue lebih sering menuliskan hal-hal yang mau gue tulis aja. Bukan sesuai dengan urutan dari setiap hal yang terjadi. Gue juga masih belum sepede itu dengan tulisan gue. Gak ada alasan lain selain untuk menjaga kewarasan diri. Iya, gue menggunakan nulis sebagai terapi. Sebagai seseorang yang lebih sering mengurung diri, merasa diri tidak penting sehingga membuat gue berpikir masalah yang gue ceritakan nggak akan ada orang yang peduli juga, sebagai orang yang sering men...

CERPEN: Kejutan dari Semesta

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang kau tau bahwa kau tak akan pernah bisa mengukir masa depan bersamanya? Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang kau tau bahwa ia tak akan membalas apa yang kau rasa? Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang kau merasa tak keberatan sama sekali meskipun ia tidak mengajakmu untuk membuat kisah bersama? Jika iya, apakah kau menikmatinya? Apakah kau bahagia saat mencintainya? Karena saat ini aku akan berkisah tentang seseorang yang selalu membuatku tersenyum saat mengingatnya, meskipun ia tak tahu bahwa namanya selalu tersimpan dalam kepala. *** Ia adalah seseorang yang baik hati. Setelah pertemuan itu, aku selalu merasa bahwa semesta selalu memberikan kejutan-kejutan yang mengagumkan. Kejutan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi dalam alur kehidupan. Kejutan yang memberiku pengertian baru bahwa jatuh cinta tak pernah memiliki tenggat waktu kadaluarsa. Kemeja biru polos adalah pakaian yang ia pakai...

Untuk diriku di masa depan

Kepada diriku di masa depan... Aku bertanya-tanya sekarang... apakah kamu sudah temukan ia yang kau rasa tepat untuk kau jadikan tempatmu merebah penat? Ah... sudah terlalu banyak dan sering aku mengeluh tentang menyedihkannya kisah cintaku sekarang... aku seringkali marah terhadap diriku sendiri mengapa aku bisa terjatuh dengan mudahnya... aku seringkali ingin terus mengeluarkan semua kekecewaanku padanya... Namun sekarang kurasa percuma... Seperti berbicara di hadapan tembok yang menjulang, setiap kali aku menumpahkan semuanya ia hanya menjawab tidak tau harus memberikan respon apa... bahkan menenangkan aku yang riuh saja ia tida melakukannya. Ia hanya mematung. Membisu menatapku yang tersedu-sedu. Aku mencintainya dengan seluruh nadiku. Setiap aliran darahku terpaut. Aku linglung saat menghadapi perubahan sikapnya yang tidak lagi seperti dulu. Tak cukupkah semua penderitaan yang harus aku tanggung? Keluargaku, temanku, masalah dalam hidupku, dan kini bahkan kisa...

Penghalang kecewa datang

Bagi kebanyakan orang, pagi ini hanyalah pagi biasa yang berjalan seperti pagi-pagi yang lainnya. Matahari muncul pada waktunya. Udara sejuk subuh berpamitan pada saatnya. Aktifitas manusia mulai bermunculan walau tidak sesibuk hari-hari kerja. Ayam berkokok, burung bercicit, kupu-kupu mulai mengepak mencari serbuk sari. Semuanya berjalan normal seperti biasa. Bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagiku sekarang. Gorden kamar kututup rapat. Sempat aku buka beberapa saat beserta jendelanya. Membiarkan udara segar pagi hari masuk ke dalam kamar. Tapi, kemudian, kuhalangi matahari yang mulai memenuhi seisi kamar. Gorden yang tersibak kututupkan lagi seperti semalam. Aku ingin menulis sekarang. Dan aku benci cahaya terang yang dapat menghancurkan fikiranku dan membuyarkan fokusku. Aku lebih menyukai berada dalam suasana gelap saat menulis. Itu sangat membantuku untuk bisa berkonsentrasi. Pagi ini sangat berbeda dari pagiku kemarin. Jam terasa lebih lambat. Detik terasa berger...

CERPEN : Kedai Martabak

Semilir angin berhembus. Matahari bersinar baik hari ini. Tidak terlalu terang dan panas penyengat. Juga tidak mendung kelam. Beberapa daun jatuh dari pohonnya. Melenggok di udara sebelum akhirnya jatuh menghujam tanah. Tawa canda riang terdengar di beberapa tempat. Entah itu terbahak bersama teman, keluarga, maupun pasangan. Semua yang ada di taman itu nampak bahagia serta ceria. Kecuali aku, mungkin. Sudah hampir setengah jam aku duduk disini. Memperhatikan beberapa kegiatan yang sedang dilakukan orang-orang sekitar. Menunggu sosok itu datang. Berkali-kali sudah aku menghela nafas panjang. Menahan air mata yang hendak keluar. Kejadian tadi malam terlalu menyakitkan. Saat aku memandang gerbang taman, lewat seorang penjual martabak mendorong gerobaknya. Semakin jelaslah ingatanku dengan peristiwa menyakitkan itu. ***** Kak Vira, kakak kandungku satu-satunya sedang hamil muda anak pertama. Tadi malam tiba-tiba ngidam berat denga...