Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Berdamai dengan diri.

Sekarang hari sabtu. Sabtu terakhir sebelum upacara terakhir. Sabtu terakhir di minggu terakhir belajar. Karena minggu depannya pasti udah ujian.             Gue sekarang nulis sambil ditemani secangkir kopi hangat. Di luar hujan. Sama seperti kebanyakan orang, hujan memang seperti memiliki kekuatan magisnya tersendiri yang dapat membuat gue merenung dan memulai perjalanan ke masa lalu. Semua kejadian seperti film yang ditayangkan ulang di depan mata. Dengan gue yang berperan sebagai pemeran utama.             Hidup memang selalu mengantarkan gue pada kejadian-kejadian yang nggak terduga. Banyak hal-hal terjadi di luar rencana. Saat berfikir merenung sendirian, rasanya ada perasaan tenang yang datang. Perasaan hangat terhadap diri sendiri. Sebenernya gue nggak cukup ngerti, tapi yang gue rasain sekarang emang kayak gini.        ...

Kisah dibalik senyum Part 1

Gue sekarang percaya kalo segala sesuatu itu udah diatur sesuai sama takaran-Nya. Yang mungkin seringnya beberapa hal nggak kita mengerti jalan ceritanya. Tapi lama-lama, Tuhan pasti menuntun kita untuk memahami maksud dari segala tindakan-Nya. Sedih, kita diperintahkan buat sabar. Seneng, kita diperintahkan buat bersyukur dan nggak jumawa. Semuanya itu ada saatnya. Nggak berlaku selamanya. Sebenernya, kalo menurut gue, mau seneng mau sedih, kita tuh dikasih waktu yang seimbang. Waktu kita seneng dan waktu kita sedih itu sama. Cuma, kembali lagi ke konsep waktu, waktu itu relatif. Mau kerasa lama atau cepet, sebenernya tergantung sudut pandang kita sendiri. Nah, kenapa saat kita seneng kita nggak disuruh sabar? Karena saat kita seneng itu waktu seperti bergerak cepat sebab kita enjoy dan nikmatin setiap detiknya. Singkatnya, nggak usah disuruh sabarpun, kalo kita lagi seneng mah, kita pasti sabar sendiri ngadepin si senengnya itu. Jadinya, waktu kerasa cepet. Beda halnya d...

Tulisan yang bingung mau dijudulin apa

Gue adalah orang yang sangat amat parah songong saat gue sendiri. Sebenernya, sejujur-jujurnya dalam lubuk hati gue, gue adalah orang yang benci berinteraksi dengan oranglain. Yup. Gue lebih seneng diem di kamar yang udah gue rapihin sebelumnya, dengan keadaan gelap, nggak diganggu siapa-siapa, nyetel lagu yang gue suka keras-keras, kemudian nulis apapun sesuka hati gue, nyanyi treak-treak seenak jidat gue, dan enjoy kopi yang udah gue seduh. Daripada maen keluar rombongan haha hihi ria bersama teman. Hal tersebut bagi gue sungguhlah melelahkan man . Itu adalah bahagia yang bener-bener bahagia. Sebebas-bebasnya kebebasan. Gue nggak perlu pura-pura disukai orang, gue nggak perlu menaati peraturan karena peraturan di kamar itu gue yang punya, gue nggak perlu menjaga sikap gue karena nggak bakalan ada siapapun yang sakit hati atas apa yang gue lakukan. Dan itu juga sekaligus saat dimana, Gue percaya bahwa gue bisa meraih impian yang gue punya. Nah, disinilah g...

Untuk diriku di masa depan

Kepada diriku di masa depan... Aku bertanya-tanya sekarang... apakah kamu sudah temukan ia yang kau rasa tepat untuk kau jadikan tempatmu merebah penat? Ah... sudah terlalu banyak dan sering aku mengeluh tentang menyedihkannya kisah cintaku sekarang... aku seringkali marah terhadap diriku sendiri mengapa aku bisa terjatuh dengan mudahnya... aku seringkali ingin terus mengeluarkan semua kekecewaanku padanya... Namun sekarang kurasa percuma... Seperti berbicara di hadapan tembok yang menjulang, setiap kali aku menumpahkan semuanya ia hanya menjawab tidak tau harus memberikan respon apa... bahkan menenangkan aku yang riuh saja ia tida melakukannya. Ia hanya mematung. Membisu menatapku yang tersedu-sedu. Aku mencintainya dengan seluruh nadiku. Setiap aliran darahku terpaut. Aku linglung saat menghadapi perubahan sikapnya yang tidak lagi seperti dulu. Tak cukupkah semua penderitaan yang harus aku tanggung? Keluargaku, temanku, masalah dalam hidupku, dan kini bahkan kisa...

Penghalang kecewa datang

Bagi kebanyakan orang, pagi ini hanyalah pagi biasa yang berjalan seperti pagi-pagi yang lainnya. Matahari muncul pada waktunya. Udara sejuk subuh berpamitan pada saatnya. Aktifitas manusia mulai bermunculan walau tidak sesibuk hari-hari kerja. Ayam berkokok, burung bercicit, kupu-kupu mulai mengepak mencari serbuk sari. Semuanya berjalan normal seperti biasa. Bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagiku sekarang. Gorden kamar kututup rapat. Sempat aku buka beberapa saat beserta jendelanya. Membiarkan udara segar pagi hari masuk ke dalam kamar. Tapi, kemudian, kuhalangi matahari yang mulai memenuhi seisi kamar. Gorden yang tersibak kututupkan lagi seperti semalam. Aku ingin menulis sekarang. Dan aku benci cahaya terang yang dapat menghancurkan fikiranku dan membuyarkan fokusku. Aku lebih menyukai berada dalam suasana gelap saat menulis. Itu sangat membantuku untuk bisa berkonsentrasi. Pagi ini sangat berbeda dari pagiku kemarin. Jam terasa lebih lambat. Detik terasa berger...

Dear my dearest sister

Mobil melesat di jalanan yang mulai melenggang. Sang pengemudi menjalankannya seperti orang yang sedang kesetanan. Lampu-lampu masih setia menerangi gelapnya jalan karena terbalut sang malam. Suasana di luar dingin menyakitkan, tapi di dalam mobilpun tak kalah mencekam. Penumpang di dalamnya menatap ke arah luar dengan nanar. Dipeluknya seorang lelaki kecil di sampingnya yang kini sedang terlelap. Ia sebisa mungkin menahan agar matanya tidak kebobolan mengeluarkan air yang sangat ia benci seumur hidupnya sekalipun ia adalah seorang perempuan. Menguat-nguatkan hatinya sepanjang perjalanan. Padahal ia sendiri sangatlah paham bahwa jiwa dan raganya amatlah pegal. Kenangan masa lalu bersama sang ayah masihlah terkenang jelas sebagai sebuah peristiwa pahit yang meninggalkan sebuah luka yang cukup dalam. Penumpang perempuan lain yang duduk di jok depan berkali-kali melihat ke arah kaca depan yang memantulkan refleksi keadaan di jok belakang. Tidak ada satupun yang berani angkat suar...

JANGAN MAU DIBEGO-BEGOIN

Jujur, gue sebenernya gak jarang muncul niatan buat mundur dan berenti nulis. Sedih aja gitu rasanya saat nulis, tapi nggak ada yang bisa dijadiin patokan. Gue nggak punya pembaca. Nyampe sekarang, dan selama ini, pembaca setia gue hanyalah diri gue sendiri. Gue nggak punya motivasi lain selain diri gue sendiri. Gue sering berharap tulisan gue dikomen jelek dan dihina-hina orang. Gue sadar penuh gue itu butuh pecutan. Yang meskipun itu sakit, tapi gue tau hal itu membuat gue nggak ada pilihan lain selain maju dan lari. Tapi ya semundur-mundurnya gue buat nulis, gue pasti cepat atau lambat bakalan balik lagi. Gue seneng sharing, gue seneng menumpahkan kekacauan dan keresahan yang gue rasakan. Gue seneng dan bangga saat ada oranglain yang bilang “thanks khal. Lo udah bantuin gue ini ini itu...” Itu membuat gue nggak bisa berenti buat terus ngasih motivasi dari keras dan sulitnya hidup yang gue jalani. Oke, pembahasan gue kali ini termotivasi dari snap wa iseng yang t...