Diriku yang lain



Air.

Air adalah diriku yang terpisah. Mengalir setiap detiknya. Setiap saat aku butuhkan. Seperti halnya kamu.
          
Dalam air, aku bisa merasakan bagaimana melayang. Aku bisa mewujudkan sesuatu yang mustahil yang tidak bisa aku lakukan bersama udara. Seperti kamu. Bisa aku sentuh, namun tak akan pernah bisa aku genggam.
          
Aku tanpamu ibaratkan air tanpa sebuah tempat. Mengalir kemanapun takdir membawanya. Bisa menjadi sangat kotor, atau bahkan semakin jernih. Dan akhirnya, bertempat pada satu titik di muka bumi ini yang paling rendah. Titik dimana aku tidak bisa berjalan dan mengalir kembali.
          
Lalu, mataharipun datang. Matahari membuatku terangkat ke atas awan. Menguap bersama udara. Saat dimana aku bisa lagi bergerak. Saat dimana aku tak lagi melalui perjalanan panjang mengalir ke tempat paling rendah.
      
Namun, aku tak ingin menjadi hujan. Hujan mengharuskanku untuk jatuh kembali dan memulai semuanya dari awal. Saat awan memintaku lepas, aku harus terhempas jatuh menghujam tanah.

 Doaku sederhana. Aku hanya meminta agar Tuhan menyediakan sebuah tempat agar aku tak lagi jatuh pada tempat yang sama. Aku ingin Tuhan menjatuhkanku pada sungai yang mengalir deras agar aku bisa menyatu bersama tetesan-tetesan air yang lainnya. Setidaknya, walau aku harus kembali berjuang, aku tidak sendirian. Aku memiliki beribu-ribu tetes teman yang memiliki tujuan serupa; mengalir menjadi jernih ke tempat yang paling rendah.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.