Berdamai dengan diri.
Sekarang hari
sabtu. Sabtu terakhir sebelum upacara terakhir. Sabtu terakhir di minggu
terakhir belajar. Karena minggu depannya pasti udah ujian.
Gue
sekarang nulis sambil ditemani secangkir kopi hangat. Di luar hujan. Sama seperti
kebanyakan orang, hujan memang seperti memiliki kekuatan magisnya tersendiri
yang dapat membuat gue merenung dan memulai perjalanan ke masa lalu. Semua kejadian
seperti film yang ditayangkan ulang di depan mata. Dengan gue yang berperan
sebagai pemeran utama.
Hidup
memang selalu mengantarkan gue pada kejadian-kejadian yang nggak terduga. Banyak
hal-hal terjadi di luar rencana. Saat berfikir merenung sendirian, rasanya ada
perasaan tenang yang datang. Perasaan hangat terhadap diri sendiri. Sebenernya gue
nggak cukup ngerti, tapi yang gue rasain sekarang emang kayak gini.
Seolah-olah
ada sebuah penghargaan dari diri gue sendiri dan buat gue sendiri. Seolah-olah
diri gue itu bilang “dhil, lu udah mengalami banyak hal untuk bisa menjadi diri
lo sekarang. Sakit, tangis, tawa, senyum, haru, marah, kecewa, lo udah berhasil
lewatin semuanya. Lo sekarang udah berdiri lebih tegap dan lebih kuat sekarang.
Lo berhasil. Fadhilah, semuanya udah tinggal lo kenang aja. Rasa lelahnya udah
nggak perlu lagi lo rasain. Luka lama perlahan akan menghilang. Fadhilah, lo
harus semakin kuat menghadapi hal-hal yang belom terjadi..”
Dan
saat keadaan gue tenang gini, gue nggak akan sensitif menerima kritik dan
pandangan oranglain ke gue. Saat gue merasa bisa mengontrol diri gue, tindakan
gue, omongan gue, gue bisa lebih mudah menerima semuanya. Keburukan diri gue,
kesalahan gue, gue nggak akan ngelak semuanya. Gue nggak takut ditolak dan
diomongin orang sekitar gue karena kesalahan yang gue lakukan. Kalopun seandainya
gue tetep akan dijauhi karena kesalahan gue, gue akan menerimanya dan
melanjutkan hidup gue dengan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Gue tau, nggak
akan bisa ada orang yang menerima gue sebaik diri gue sendiri. Dan gue fikir,
melakukan kesalahan adalah hal yang wajar selama kadarnya nggak berlebihan. Ngelakuin
kesalahan kalo kita menerimanya, menyesalinya, mengakuinya, kemudian berusaha
memperbaikinya, gue rasa dapat membuat gue lebih mencintai diri gue sendiri. Dapat
membuat gue lebih mudah menerima baik buruk peristiwa yang datang. Nggak ada
hal yang lebih membuat tenang selain kita sadar bahwa kita mencintai diri kita
beserta baik-buruknya.
Gue
sepenuhnya sadar, gue bukanlah orang yang mudah. Nggak satu orang yang bilang
gue orangnya sulit buat ditebak. Semenit sebelumnya ketawa. Detik selanjutnya
malah diam seribu bahasa. Nggak lama lagi ceria. Tapi setelahnya malah nggak
menjawab saat ditanya.
Sulit
rasanya menerima keburukan diri gue sendiri. Sebagai manusia biasa yang
menginginkan kesempurnaan dalam segala hal, gue pengen banget berbuat baik ke
semua orang. Gue pengen meninggalkan kesan yang berharga di pandangan orang
yang gue kenal. Tapi nyatanya, itu adalah hal yang terlalu berat. Kemampuan gue
terbatas. Semakin gue memaksakan diri, semakin banyak orang yang bakal
tersakiti.
Karena
keinginan ingin menjadi orang baik bagi semua orang yang gue kenal, saat gue
melakukan kesalahan dan diingatkan, gue cenderung membela diri gue sendiri. Mengelak,
memberi seribu alasan, tidak mengakui apa yang gue lakukan, memutar balikkan
fakta, dan hal semacam itu yang akan gue lakukan. Kenapa? Karena mindset yang
gue taro. Tuntutan yang gue targetkan kepada diri sendiri. Dan karena sudah
merasa banyak melakukan hal baik, jadinya ketika gue melakukan kesalahan, gue
bakalan cenderung tidak mempercayainya. Gue bakalan ngerasa gue nggak seburuk
itu. Gue mulai merasa seperti malaikat di saat oranglain memandang gue sebagai
iblis.
Setelah
berfikir beberapa hari ini, gue sekarang tau. Gue nggak perlu melakukan hal
itu.
Gue
mulai menerima bahwa ada kalanya gue berbuat buruk dan salah ke beberapa orang.
Dengan menerima, gue perlahan bakalan mengakuinya. Setelah mengakui, gue akan
masuk ke tahap menyesali. Gue meresapi dari kesalahan yang gue lakukan, seperti
apa perasaan oranglain yang gue sakiti hatinya entah sengaja atau enggak. Setelah
gue tau, setelah gue paham, gue bakalan minta maaf sesuai dengan kemampuan gue.
Sebisanya gue. Kalo gue udah nyesel, nggak akan sulit rasanya buat move on. Buat
meninggalkan kesalahan gue dan bergerak memperbaikinya. Buat melangkah ke depan
dan nggak mengulangi hal yang sama.
Minta
maafpun menjadi terasa lebih tulus. Gue bakal maklum seandainya orang yang
menjadi korban atas kelakuan buruk gue nggak dengan mudah memaafkan kesalahan
gue. Gue bakal menerimanya. Gue tau, dimaafkan atau enggak, itu bukan urusan
gue. Bukan bagian gue. Yang bisa gue lakukan adalah meminta maaf dan menyesali
sesesal-sesalnya. Mengakui dengan pasti itu adalah kesalahan yang gue lakukan
secara sadar apapun kondisinya. Diterima baik-buruknya syukur, kalo enggak juga
nggak apa-apa. Gue bakal memakluminya, karena kembali lagi ke perkataan gue
sebelumnya, gue bukanlah orang yang mudah untuk dipahami dan dimengerti. Kalo dia
tidak bisa menerima buruk-baiknya gue, gue nggak akan maksa. Ditinggal sendirianpun,
gue nggak masalah.
Nggak
ada yang lebih sulit selain memaafkan diri sendiri. Tapi, sulit bukan berarti
nggak mungkin. Kita hanya perlu terbiasa. Banyak latihan, banyak melihat dan
mendengar lingkungan sekitar. Banyak menyadari kehadiran sepele yang sering
kita abaikan. Banyak bersyukur, banyak menyadari banyak hal.
Percaya
deh, nggak ada yang hal lebih damai selain berdamai dengan diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar