Dear my dearest sister

Mobil melesat di jalanan yang mulai melenggang. Sang pengemudi menjalankannya seperti orang yang sedang kesetanan. Lampu-lampu masih setia menerangi gelapnya jalan karena terbalut sang malam. Suasana di luar dingin menyakitkan, tapi di dalam mobilpun tak kalah mencekam.

Penumpang di dalamnya menatap ke arah luar dengan nanar. Dipeluknya seorang lelaki kecil di sampingnya yang kini sedang terlelap. Ia sebisa mungkin menahan agar matanya tidak kebobolan mengeluarkan air yang sangat ia benci seumur hidupnya sekalipun ia adalah seorang perempuan. Menguat-nguatkan hatinya sepanjang perjalanan. Padahal ia sendiri sangatlah paham bahwa jiwa dan raganya amatlah pegal.

Kenangan masa lalu bersama sang ayah masihlah terkenang jelas sebagai sebuah peristiwa pahit yang meninggalkan sebuah luka yang cukup dalam. Penumpang perempuan lain yang duduk di jok depan berkali-kali melihat ke arah kaca depan yang memantulkan refleksi keadaan di jok belakang. Tidak ada satupun yang berani angkat suara. Jam di dashbor mobil terus berdetak. Terasa amat lambat seolah mengejek mereka semua agar terjebak dalam situasi menyebalkan dalam tempo waktu yang cukup lama. Terdengar sebuah helaan nafas dari arah jok belakang. Perempuan yang duduk di jok depan amat yakin bahwa si perempuan yang duduk di belakang tengah menahan dan menjaga dirinya agar tetap tenang. Setidaknya, selama mereka di perjalanan. Ia tidak tau akan terjadi apa jika mereka telah sampai di tujuan.

Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Mobil mulai melangkah memasuki gerbang dan jalan yang sudah amat familiar. Lajunya mulai melambat walau masih ada sisi terburu dan tergesa yang masih terasa. Sebuah pertanda bahwa sang pengemudi juga ingin segera keluar dari situasi yang menyiksa. Perempuan di jok depan menolehkan kepalanya perlahan –sembari berdoa dalam hati agar ia tidak ketahuan-. Mata menyala karena amarah terlihat jelas dalam kelopak sang pengemudi yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya. Sorot mata yang sama yang juga ditunjukkan padanya ketika dulu ia bolos mengaji atau tidak bisa menjawab tajwid yang telah diajarkan sebelumnya.

Mesin mobil dimatikan. Sang ayah langsung keluar yang disusul oleh 2 penumpang perempuan lainnya –serta seorang lelaki mungil yang kini ada dalam pelukan perempuan satunya-. Langkahnya langsung melesat masuk menuju mesjid. Meninggalkan kedua putrinya dengan ego yang menjulang tinggi sedari dulu. Tanpa berkata atau pamitan satu patah katapun.

Perempuan yang duduk di jok depan tadi melangkah duluan sebelum akhirnya ia terhenti karena perempuan yang duduk di jok belakang mengeluarkan atmosfer yang tak biasa. Ia menoleh, dan seketika ia membeku melihat perempuan itu, perempuan yang adalah kakak sulungnya itu, tengah mengusap matanya dengan sebelah tangannya karena tangannya yang lain sedang mengendong jagoannya. Bahunya mulai turun-naik tak keruan. Isakannya seperti dipenjara oleh keadaan yang menuntutnya agar tidak menjadi seorang wanita yang lemah. Sedangkan hatinya bak suara yang terbungkam yang meronta ingin didengar. Menyakitkan.

Karena naluri perempuan mengetuk dirinya, perempuan yang duduk di jok depan tanpa berfikir panjang segera menyambarkan dirinya kepada kakak perempuan satu-satunya. Menawarkan pundak untuk bersandar dan telinga untuk mendengar. Memeluk perlahan perempuan rapuh yang sedang berusaha kuat dengan susah payah yang kini sedang berdiri lemas di hadapannya.

Isakan sang sulung sudah tak terbendung lagi. Airmatanya keluar tanpa bisa lagi ia larang. Tubuhnya mulai terguncang walau ia mati-matian masih berusaha mengontrol dirinya agar sang cintanya tidak terjaga dari mimpinya. Walau ia tahu hal itu akan terasa percuma mengetahui kini tangisannya mulai bermetamorfosa menjadi sebuah raungan kepedihan yang tertahan.

Ia ingin mengutuk semuanya. Ia ingin mengumpat sepuasnya. Mengapa hidup begitu kejam memukulnya dan menuntutnya dari sejak ia kecil hingga ia sedewasa sekarang. Jika saja ia tidak mempedulikan cinta seumur hidupnya yang kini terlelap dalam pelukannya, pastilah sekarang ia sudah terkapar lemas tak berdaya karena beban hidup yang telah lama ia tanggung dan ia simpan dalam dirinya sendirian. Pastilah sekarang ia bisa mengeluarkan semua isakannya tanpa perlu menahannya lebih lama.

Sang adik hanya bisa mengusap punggungnya sembari membisikkan kalimat penenang yang tidak terlalu ia dengar karena ia terlalu fokus meluruhkan apa yang mencengkram erat hatinya. Sampai akhirnya ia memang harus menghentikan tangisannya karena malaikatnya mulai merengek pelan. Ia tidak ingin jagoannya terbangun hanya karena kepedihan hati yang ia rasakan. Cinta tidak boleh dan tidak akan egois. Dan ia mempraktekan cinta itu kepada lelaki kecil yang ada dalam pangkuannya –yang selama hidupnya ia sumpahkan untuk menjadikan lelaki itu sebagai pusat semestanya-.

Ia kemudian memutuskan untuk menghentikan airmatanya. Menghirup udara malam dalam-dalam. Berusaha kembali mengontrol dirinya sebelum ia mulai melangkah menuju rumah lamanya. Rumah yang dulu ia tinggali bersama ayah ibunya sebelum ia akhirnya memutuskan untuk menetap di rumah barunya yang ia tinggali sekarang.

Ditatapnya pahlawan kecilnya yang hampir terbangun karenanya barusan. Ia menggoyang-goyangkan tubuh mungilnya sejenak. Memberikan kenyamanan yang ia bisa lakukan kepada cintanya. Lelaki kecil inilah yang selalu mengobati hatinya. Lelaki tampan dalam pelukannyalah yang selalu menjadi alasan mengapa ia harus bertahan dan menjadi kuat setiap harinya. Ia tersenyum. Betapa ia amat berterimakasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan sesosok malaikat yang selalu menjadi alasannya untuk bersyukur setiap saat. Yang menjadi bukti kekuasaan-Nya atas dirinya. Yang selalu membuatnya terus percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkannya kesepian.

Ia berjalan bersama sang adik yang kini sudah mulai tumbuh dewasa. Ah, waktu memang melesat begitu cepat. Hal apa sajakah yang sudah menimpa adik menyebalkannya itu sehingga ia dapat menjadi sosok yang sekarang? Hal apa sajakah yang adiknya alami sehingga ia merasa dapat ia percaya untuk ia bagi keluh kesahnya? Padahal, rasanya baru kemarin ia merasa menjadi kakak paling sial sedunia karena memiliki adik menyebalkan seperti dia. Tapi malam ini ia sadar bahwa sekarang ia adalah kakak paling beruntung karena memiliki adik yang bisa ia jadikan teman bercerita. Yang berarti bisa ia jadikan seorang sahabat.

Langkahnya mulai terasa ringan walau ia sadar masih ada beberapa hal yang belum ia tumpahkan. Tapi setidaknya ia tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian. Langit malam itu berbintang. Masih banyak hal yang dapat ia syukuri daripada terus-menerus ia keluhkan.

Termasuk pahlawan kecil yang ada dalam dekapannya.



***



Kepada seorang perempuan kuat yang aku hormati setelah Mamah...


Aku tahu, hidup memang kejam dan membingungkan. Seringkali kita mempertanyakan atas semua peristiwa yang datang tanpa kita minta. Seringkali kita ingin marah atas hidup menyakitkan yang kita jalankan. Seringkali kita lelah karena topeng yang mau tidak mau harus kita pasang setiap saat. Seringkali kita pegal karena terus dipaksa untuk harus tetap berdiri tegap melawan arus badai kehidupan yang menerpa. Aku tahu semuanya. Aku mengerti kepedihanmu walau aku tidak mengalaminya secara langsung.

Dalam sorot mata lelahmu, aku tahu kamu rindukan dirimu yang dulu. Aku tau, kamu ingin lari dan terlepas dari keadaan yang sekarang membelenggumu. Membuatmu terjerat dan tidak memiliki pilihan lain selain terus melangkah dan menjalaninya. Aku tahu, kamu tidak lagi berusaha menghentikan hujan karena kamu terlalu amat lelah mencobanya sehingga kini kamu memilih untuk menari dan menikmati setiap rintikannya. Aku tahu kesedihanmu walau aku tidak mampu mengerti semua inginmu.

Melihatmu mencintai belahan dirimu yang dulu kau keluarkan dari dalam perutmu, memberiku sebuah pelajaran berharga bahwa itulah bukti cinta nyata yang sesungguhnya. Aku tahu kau sekuat Mamah. Mungkin kau tidak tahu, sekarang, saat aku hendak bertindak kurang ajar kepada orang yang dulu melahirkanku, aku teringat akan perjuanganmu. Tentang isak tangismu saat melihat jagoanmu tergeletak lemas di ruang ICU. Tentang senyum getirmu menghadapi semua takdirmu. Tentang ketabahanmu menjalani hidupmu.

Aku beruntung dapat menyaksikan beberapa fase sulitmu dan berusaha membantumu sebisaku. Aku tidak tahu apakah kehadiranku dapat membantu. Tapi, sungguh, melihatmu terisak dapat mencabik hatiku. Melihatmu tersiksa mampu menghantam diriku. Kau adalah orang yang amat kusayangi setelah kedua orangtuaku. Maafkan semua sikap biadabku padamu dulu. Semua orang pernah ada di saat kelam. Kuharap kamu dapat berbaik hati memaafkan.

Ah, seandainya waktu dapat kembali kuputar. Aku ingin merasakan suasana ini lebih lama. Aku ingin memiliki lebih banyak malam-malam yang kita isi dengan berbagi cerita hingga kita lupa dengan waktu yang terus berjalan. Aku ingin memiliki lebih banyak hari-hari tertawa yang kita lakukan bersama. Aku ingin kau tetap ada di rumah tanpa boleh seorangpun yang mengganggu kita. Aku ingin melakukan lebih banyak hal bersama.

Maaf aku masih belum bisa melakukan apa-apa dan memberikan apa-apa. Mungkin untuk saat ini, aku masih berjuang. Kuharap kau sudi membantuku dengan cara mengirimkan do’a yang terbaik untukku. Tunggu kesuksessanku ya, agar aku bisa membahagiakan Mamah dan Papap, juga memberikanmu dan Najmi apapun. Do’akan aku agar aku bisa menjadi orang yang berguna di masa depan. Setidaknya, untuk memperbaiki dan sebagai tebusan dosa-dosaku yang menumpuk di masa lalu.

Aku mungkin tidak mampu menunjukkan secara langsung dan mengucapkannya secara gamblang betapa aku amat sangat menyayangimu sepanjang hidupku. Tapi, ketahuilah, memiliki seorang kakak tegar sepertimu adalah anugerah berharga yang Tuhan berikan padaku. Menemani dan menyaksikan masa sulitmu adalah pelajaran penting yang tidak akan bisa aku dapatkan di sekolah. Terimakasih sudah menunjukkan padaku bukti cinta yang sesungguhnya setelah mamah melakukannya. Terimakasih sudah mempercayaiku untuk bisa kau bagi tawa dan keluh kesah. Terimakasih sudah menjadi seorang kakak yang amat sudah lebih dari kata sempurna.

Jangan pernah lagi merasa sendirian. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau inginkan. Kau bisa memperlakukanku bagaikan teman sebayamu. Kau bisa meminjam pundak dan memintaku untuk mendengarkan semua isi kepala dan hatimu. Melakukan semua hal itu adalah pekerjaan yang paling aku nikmati sepanjang hidupku.

Dear my dearest older sister... i love you from the deepest of my heart. Always.





Sincerly,
Your younger sister



k. fadhilah







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.