Penghalang kecewa datang
Bagi
kebanyakan orang, pagi ini hanyalah pagi biasa yang berjalan seperti pagi-pagi
yang lainnya. Matahari muncul pada waktunya. Udara sejuk subuh berpamitan pada
saatnya. Aktifitas manusia mulai bermunculan walau tidak sesibuk hari-hari
kerja. Ayam berkokok, burung bercicit, kupu-kupu mulai mengepak mencari serbuk
sari. Semuanya berjalan normal seperti biasa. Bagi kebanyakan orang.
Tapi
tidak bagiku sekarang.
Gorden
kamar kututup rapat. Sempat aku buka beberapa saat beserta jendelanya. Membiarkan
udara segar pagi hari masuk ke dalam kamar. Tapi, kemudian, kuhalangi matahari
yang mulai memenuhi seisi kamar. Gorden yang tersibak kututupkan lagi seperti
semalam. Aku ingin menulis sekarang. Dan aku benci cahaya terang yang dapat
menghancurkan fikiranku dan membuyarkan fokusku. Aku lebih menyukai berada
dalam suasana gelap saat menulis. Itu sangat membantuku untuk bisa
berkonsentrasi.
Pagi
ini sangat berbeda dari pagiku kemarin.
Jam
terasa lebih lambat. Detik terasa bergerak merangkak daripada saat-saat
sebelumnya. Bagaikan seorang lelaki yang sedang menanti jawaban dari orang yang
dicintainya, akupun kini demikian. Berharap-harap cemas dengan segala
kemungkinan dan kejadian yang akan terjadi nantinya. Kadang melambung tinggi ke
atas awan, percaya dengan diri dan kemampuan, tapi selanjutnya terhempas ke
dalam tanah. Diingatkan oleh realita bahwa banyak ratusan atau bahkan ribuan
orang yang kemampuannya sudah jauh lebih mengangkasa.
Hari
ini adalah hari pengumuman. Beberapa waktu lalu, aku mencoba menerima tantangan
untuk mengirimkan hasil fikiranku dalam mengolah kata. Sebelumnya, sudah
puluhan kali aku mengingatkan diri untuk jangan terlalu berharap pada hasilnya.
Tapi entah mengapa kali ini seperti ada dalam hatiku sebuah keteguhan yang enggan
tumbang. Aku tidak tau apa dan mengapa. Bahkan, aku tidak sadar kapan ia sudah
menancap dan menjulang tinggi disana.
Yang
sekarang aku curigai kehadirannya adalah; si tamu yang sama sekali tidak pernah
aku undang dan harapkan kedatangannya. Si sombong yang amat congkak. Si songong
yang merasa sudah menjadi orang yang paling hebat sehingga merasa mampu
meremehkan karya orang.
Dan
pagi ini, di suasana kamarku yang gelap, aku hendak berniat menghancurkannya. Aku
berniat untuk menampar diriku agar tidak terlalu tinggi berharap. Aku akan
membujuk diriku dari sekarang agar mau berlapang dada jikalau hasilnya tidak
sesuai dengan harapan. Aku harus memotivasi diriku mulai detik ini juga agar
terus berjuang jikalau kali ini bukanlah saat yang tepat bagiku untuk menang. Allah
pasti punya rencana lain yang lebih hebat. Allah pasti memberikan kesempatan
lain yang lebih besar. Allah pasti menjadikanku seorang pemenang pada waktu
yang tepat yang mungkin belum aku ketahui sekarang kapan pastinya.
Kepada
diriku, jika nanti saat diumumkan hasilnya namamu tidak tertulis disana,
kumohon untuk jangan berhenti berjuang untuk terus lebih baik selanjutnya. Kumohon
jangan berhenti untuk terus percaya bahwa karyamu akan berharga bagi banyak
orang nantinya. Kumohon untuk jangan cepat merasa lelah saat kau terus-menerus
dihadapakan dengan kalah. Aku percaya kamu kuat, tabah, dan sabar. Kamu harus
bisa melewati semuanya hingga saatmu menjadi pemenang itu datang.
Kepada
diriku, teruslah menulis hingga datang waktumu untuk debut. Teruslah mengetik
hingga dunia mengenal siapa namamu dan seperti apa hidupmu. Teruslah menjadi
kuat agar kau mampu menguatkan orang-orang yang ada di sekitarmu. Teruslah menjadi
pendengar yang baik bagi mereka yang membutuhkan pengertianmu. Teruslah menjadi
tameng bagi mereka yang lemah dan baru mengenal kejamnya hidup.
Kau
diberi ujian lebih berat karena Tuhan percaya kamu adalah sosok yang kuat. Kau diberi
cobaan yang pedih agar kau mampu menghibur teman-temanmu yang sedang bersedih. Teruslah
menjalankan misi sebagai bagian dari tangan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa
orang yang mungkin tengah terkukung dalam gelap kehidupan. Kau pernah dituntun
oleh-Nya menuju cahaya, maka balaslah Tuhan yang menuntunmu dengan membantu
orang sekitarmu menemukan cahaya-Nya.
Kepada
diriku... janganlah berlama bersedih dan meratapi perihnya hidup... tapi
teruslah tabah untuk menjalaninya dengan tersenyum..
16 Februari 2018
07:49
Komentar
Posting Komentar