Hidup sebagai introvert

Gue nggak tau harus mulai cerita darimana. Gue rasa otak gue lagi kayak benang kusut yang bakalan sulit gue uraikan sekarang. Semuanya terlalu complicated. Berhimpit dan bikin sesak. Bahkan nyampe membuat tidur gue nggak karuan.

Tadi malem, mungkin gue cuma tidur sekitar 3 jam. Gue emang secemas itu kalo lagi ada sesuatu yang menggangu fikiran gue. Gue nggak bisa dengan mudahnya menidurkan diri gue dan bilang bahwa semuanya bakalan baik-baik aja meski nyatanya gue nggak tau apakah bakalan baik-baik aja atau enggak. Dan yang paling mengerikan adalah, ketika gue membenci diri gue sendiri.

I know. Aneh. Gue selama ini kayak semacam suka membelah diri gue sendiri jadi beberapa bagian. Yang kalo gue lagi salah, diri gue yang lain bakalan ngomelin gue habis-habisan. Bakalan mengutuk diri gue sendiri dengan rutukan yang macem-macem. Entah. Bahkan, gue sempet pernah ada di fase dimana gue menganggap bahwa mati adalah sesuatu hal yang tidak begitu buruk daripada kehidupan. 

Menjadi seorang introvert di tengah hiruk pikuk dunia adalah suatu hal yang nggak gampang gue jalani. Apalagi, gue harus menjalani semuanya sendirian. Karena cerita kepada mereka yang belum pernah merasakan dan tidak mau mengerti rasanya bakalan percuma doang. Yang ada, mereka akan menganggap hal ini adalah sesuatu yang lebay, berlebihan, mengada-ada, atau bahkan adalah sebuah drama. Parahnya, mungkin mereka akan menertawakan dan hal itu semakin membuatku merasa terasingkan dan enggan untuk membuka diri pada dunia luar.

Gue nggak pernah mau dan minta menjadi orang yang seperti ini. Tapi, setelah selama 3 taun SMP gue hadapi sendiri dan membuat gue akrab dengan rasa sepi, disaat gue hendak membuka diri, gue takut kalo seandainya gue ditolak lagi. Gue pernah ada di posisi dimana kalo ada orang yang ngajak gue ngomong, tubuh gue langsung kaku dan nggak tau harus ngapain. Kecuali kalo isi omonganya adalah sesuatu yang berisi. Jadi ada suatu topik penting yang membuat gue bisa ngomong dan berdiskusi.

Gue setakut itu dengan manusia. Gue pernah, saat gue sedih, saat gue nggak tau harus kemana, gue akhirnya nangis di WC sendirian. Temen gue gedor-gedor dan ngomelin gue dari luar. Mengatai gue sebagai beban angkatan, orang yang nyolot, gatau diri, dan membuat gue semakin membenci diri gue sendiri. Bahkan untuk menuliskannya aja, gue masih berat buat melakukannya.

Gue nggak tau apakah hal-hal itu menjelma menjadi sebuah trauma berkepanjangan atau hal semacamnya. Tapi, gue pernah berusaha mencoba untuk melawan ketakutan terbesar gue. Untuk bersosialisasi. Di waktu gue kelas 11 kemaren.

Apakah gue berhasil? Ya. Gue berhasil. Tapi itu nggak lantas menjadikan gue sebagai orang yang mudah untuk bersosialisasi. Gue masih sama. Gue masih takut untuk menghadapi orang baru. Gue masih takut untuk berhadapan dengan manusia yang enggak gue kenal. Dengan manusia yang di first impressionnya malah berbicara dengan enteng tanpa difikir apakah gue bisa menerimanya atau tidak. 

Apakah itu membuat gue nggak mau merubah diri gue? Nggak. Gue pengen merubah ketakutan gue ini. Gue pengen bisa mengatasi rasa takut gue ini. Gue pengen bisa gampang akrab sama orang. Bisa semengalir itu kalo ngobrol ringan di saat gue malah mikir keras harus ngomong apa. Gue pengen jadi orang kayak gitu.

Tapi gue nggak bisa merubahnya dengan sekali tindakan. Butuh energi yang nggak sedikit untuk menghadapi ketakutan yang mungkin muncul karena peristiwa di masa lalu. Butuh sedikit keberanian bagi gue untuk mengatasi hal itu. Dan gue tau, nggak semua orang mau menemani gue dalam proses rubahnya gue yang bobrok ini.

Gue harus mau menerima diri gue yang buruk ini dan menerima kenyataan bahwa nggak semua orang mampu dan mau menerima gue di saat buruk ini. Sulit. Sulit banget rasanya mempercayai bahwa orang yang gue sayang juga tidak bisa menerima hal ini. Gue harus paham dan memaklumi. Gue sendiri untuk bisa menerima diri gue butuh waktu yang nggak sebentar. Nggak seharusnya gue maksa dia buat bisa nerima gue yang sekarang.

Semua orang bebas melakukan apapun yang mereka sukai selama itu adalah bukan suatu hal yang dapat merugikan oranglain. Begitupun gue. Gue nggak perlu memaksa diri gue untuk berubah dalam waktu yang singkat, karena itu akan semakin menekan mentallyty gue yang mungkin nggak terlalu sehat. Gue mau membiarkan diri gue buat berubah pelan-pelan. Meskipun resikonya adalah gue harus kehilangan orang yang gue sayang.


Pengen banget ngeluh sebenernya, kenapa gue harus menjalani hidup gue yang kayak gini. Gue pengen banget nangis dan menumpahkan semua ketakutan gue. Tapi gue tau, gue adalah tipe orang yang jarang banget dengerin kata hati gue. Dan logika gue sekarang bilang, kalopun gue nangis, itu adalah hal yang nggak berguna. Dengan gue ngeluh, gue nggak akan bisa mengubah keadaan. Yang gue bisa lakukan cuma menerima dan menjalaninya. Meskipun harus dengan perasaan lelah, muak, dan capek menghadapinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.