Ikhlas
Sebelum gue berangkat ujian, gue mau ngomong dulu ke diri gue sendiri bentaran. Tentang apa yang gue rasa, tentang apa yang gue khawatirkan, dan tentang apa yang amat sangat gue takutkan.
Ini sebenernya adalah kali pertama gue menaruh harapan besar pada seseorang. Karena sikap dia yang pernah baik banget ke gue, dan gue merasa berhutang banyak atas semua hal yang dia lakukan. Gue jadi takut kehilangan dia. Gue jadi nggak mau ke siapapun selain sama dia.
Dia pernah memperlakukan gue dengan sebegitu hati-hatinya, nyampe sekarang yang akhirnya selalu mempertahankan egonya. Gue tau, dia manusia. Tapi, yang sering gue herankan adalah, kalo dia tau dia berat untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dia terus lakukan, untuk apa kemarin pernah melakukan hal-hal yang nggak pernah sedikitpun gue minta.
And here i am now.
Setelah perdebatan panjang, gue bergeming di kalimat yang dia kasih ke gue. Mungkin dia ada benernya. Bahwa gue dan dia sulit sepaham dan mungkin nggak akan pernah bisa sepaham. Gue seharusnya tau dari awal, sama bukan berarti bakalan sejalan. Dan beda bukan berarti akan saling berjauhan. Justru magnet akan saling tarik menarik ketika kedua kutubnya berbeda. Bukan sama.
Kalo ditanya apakah gue sayang sama dia, ya. Gue sayang. Tapi gue nggak tau, apakah gue menyayanginya sebagai pasangan gue, atau sebagai orang yang gue kagumi karena beberapa hal yang nggak gue temukan di oranglain.
Gue sempet nangis dan nggak pernah terbayang gimana hidup gue tanpa dia. Gimana hampanya gue tanpa dia. Tapi, seiring waktu berjalan, gue sadar bahwa segala hal nggak bisa dipaksakan. Urusan perasaan adalah perkara Tuhan. Yang nggak akan pernah pasti. Sekeras apapun kamu berjuang hanya untuk urusan hati.
Gue sekarang tau, sebenernya, gue ini nggak punya apa-apa. Dan pasangan yang gue punya sekarang, sebenernya sama aja kayak harta. Semuanya cuma titipan. Gue harus mempersiapkan diri dari sekarang untuk berlatih kalo seandainya dia diambil lagi oleh Tuhan. Kalo seandainya dia bukan jodoh gue. Kalo seandainya dia berakhir sama orang yang lebih baik dari gue.
Gue sayang sama dia. Dan gue nggak tau lagi harus kayak gimana. Mungkin, hati gue sakit. Mungkin, hidup gue bakalan berenti sejenak. Tapi, segimana kerasnya gue berjuang, kalo dia bukan buat gue, sampai kapanpun hatinya nggak akan pernah tertuju buat gue. Gue nggak akan lagi maksa atau usaha biar dia bertahan di hidup gue.
Kalo ditanya apakah gue menyesal sama dia walaupun nanti dia nggak berakhir sama gue, gue akan tetep jawab nggak. Gue nggak akan pernah menyesal ketemu dan pernah kenal sama dia. Gue nggak akan pernah menyesal mengenal dia lebih dalam. Bagaimanapun juga, yang telah pergi atau akan pergi, pasti memberikan sesuatu sebagai alasan mereka datang ke kehidupan kita. Dan gue tau, sesuatu itu untuk gue pelajari. Untuk gue ambil hikmahnya. Bukan untuk gue lupakan, bukan untuk gue buang.
Gue masih takut buat kehilangan dia, tapi gue harus siap kapanpun kalo memang momen itu tiba. Gue harus menyadari dari sekarang, bahwa segala hal yang datang, pasti akan menghilang. Dan itulah yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Istimewa atau enggak, tergantung perlakuan kita terhadap hal itu selama hal tersebut belum menghilang.
Entah ini akan memberikan efek atau enggak, gue sekarang memutuskan untuk lebih lama diem di blog. Gue akan menuliskan apa yang gue rasa, ketimbang bilang langsung ke orang yang bersangkutan. Gue akan menabung luka dan membiasakan diri gue sejak sekarang. Gue nggak mau hidup gue yang singkat ini gue isi dengan hal yang sia-sia dan membosankan. Gue akan membuatnya lebih berwarna sesuai apa yang gue suka dan gue mau. Agar gue nggak terlalu jatuh saat ada lagi orang yang datang, kemudian gue tau bahwa orang tersebut akan menghilang.
Ini sebenernya adalah kali pertama gue menaruh harapan besar pada seseorang. Karena sikap dia yang pernah baik banget ke gue, dan gue merasa berhutang banyak atas semua hal yang dia lakukan. Gue jadi takut kehilangan dia. Gue jadi nggak mau ke siapapun selain sama dia.
Dia pernah memperlakukan gue dengan sebegitu hati-hatinya, nyampe sekarang yang akhirnya selalu mempertahankan egonya. Gue tau, dia manusia. Tapi, yang sering gue herankan adalah, kalo dia tau dia berat untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dia terus lakukan, untuk apa kemarin pernah melakukan hal-hal yang nggak pernah sedikitpun gue minta.
And here i am now.
Setelah perdebatan panjang, gue bergeming di kalimat yang dia kasih ke gue. Mungkin dia ada benernya. Bahwa gue dan dia sulit sepaham dan mungkin nggak akan pernah bisa sepaham. Gue seharusnya tau dari awal, sama bukan berarti bakalan sejalan. Dan beda bukan berarti akan saling berjauhan. Justru magnet akan saling tarik menarik ketika kedua kutubnya berbeda. Bukan sama.
Kalo ditanya apakah gue sayang sama dia, ya. Gue sayang. Tapi gue nggak tau, apakah gue menyayanginya sebagai pasangan gue, atau sebagai orang yang gue kagumi karena beberapa hal yang nggak gue temukan di oranglain.
Gue sempet nangis dan nggak pernah terbayang gimana hidup gue tanpa dia. Gimana hampanya gue tanpa dia. Tapi, seiring waktu berjalan, gue sadar bahwa segala hal nggak bisa dipaksakan. Urusan perasaan adalah perkara Tuhan. Yang nggak akan pernah pasti. Sekeras apapun kamu berjuang hanya untuk urusan hati.
Gue sekarang tau, sebenernya, gue ini nggak punya apa-apa. Dan pasangan yang gue punya sekarang, sebenernya sama aja kayak harta. Semuanya cuma titipan. Gue harus mempersiapkan diri dari sekarang untuk berlatih kalo seandainya dia diambil lagi oleh Tuhan. Kalo seandainya dia bukan jodoh gue. Kalo seandainya dia berakhir sama orang yang lebih baik dari gue.
Gue sayang sama dia. Dan gue nggak tau lagi harus kayak gimana. Mungkin, hati gue sakit. Mungkin, hidup gue bakalan berenti sejenak. Tapi, segimana kerasnya gue berjuang, kalo dia bukan buat gue, sampai kapanpun hatinya nggak akan pernah tertuju buat gue. Gue nggak akan lagi maksa atau usaha biar dia bertahan di hidup gue.
Kalo ditanya apakah gue menyesal sama dia walaupun nanti dia nggak berakhir sama gue, gue akan tetep jawab nggak. Gue nggak akan pernah menyesal ketemu dan pernah kenal sama dia. Gue nggak akan pernah menyesal mengenal dia lebih dalam. Bagaimanapun juga, yang telah pergi atau akan pergi, pasti memberikan sesuatu sebagai alasan mereka datang ke kehidupan kita. Dan gue tau, sesuatu itu untuk gue pelajari. Untuk gue ambil hikmahnya. Bukan untuk gue lupakan, bukan untuk gue buang.
Gue masih takut buat kehilangan dia, tapi gue harus siap kapanpun kalo memang momen itu tiba. Gue harus menyadari dari sekarang, bahwa segala hal yang datang, pasti akan menghilang. Dan itulah yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Istimewa atau enggak, tergantung perlakuan kita terhadap hal itu selama hal tersebut belum menghilang.
Entah ini akan memberikan efek atau enggak, gue sekarang memutuskan untuk lebih lama diem di blog. Gue akan menuliskan apa yang gue rasa, ketimbang bilang langsung ke orang yang bersangkutan. Gue akan menabung luka dan membiasakan diri gue sejak sekarang. Gue nggak mau hidup gue yang singkat ini gue isi dengan hal yang sia-sia dan membosankan. Gue akan membuatnya lebih berwarna sesuai apa yang gue suka dan gue mau. Agar gue nggak terlalu jatuh saat ada lagi orang yang datang, kemudian gue tau bahwa orang tersebut akan menghilang.
Komentar
Posting Komentar