LET PEOPLE ENJOY THEIR LIFE.
Gue
sering denger, katanya penduduk Indonesia adalah penduduk yang paling ramah
diantara penduduk-penduduk negara lain. Dan bagi gue, orang Indonesia bukan Cuma
sekedar orang yang ramah, sekaligus orang yang terlalu peduli sama urusan
oranglain yang bahkan nggak ada urusannya sama dirinya sendiri.
Wajar
sih, beberapa orangtua masih ‘menurunkan’ tradisi buruk ini ke anak-anak
mereka. Salahsatunya dengan nuntut anak-anaknya buat terus berprestasi biar
nggak malu-maluin kalo cerita-cerita pas lagi lebaran sama keluarga besar. Biar
bisa dibangga-banggain ke orang-orang ‘anak gue gini loh, anak gue gitu loh,
udah bisa ini loh, ranking ke sekian loh’ dan hal memuakkan lainnya.
Dan
sang anak akan merasa bangga kalo sekalinya udah digituin sama orangtuanya. Kemudian
terus berlanjut ke generasi seterusnya. Terus berlanjut ke anak-cucunya. Seperti
lingkaran setan yang nggak tau kapan putusnya.
Kecuali
kita sendirilah yang memutuskan lingkaran setan itu.
Gue
sendiri mengalami kondisi kayak gitu. Gue tau gimana rasanya
dibanding-bandingin sama entah sepupu atau siapapun itu yang dianggap prestasi
dan segalanya lebih dari gue dan dengan gue yang masih seadanya. Dengan gue
yang masih suka engap-engapan sekalinya dihadapkan dengan soal matematika.
Dan
itu rasanya nggak enak.
Sebelum jadi gue yang sekarang, gue
adalah orang yang lebih mementingkan sebuah hasil daripada prosesnya. Faktor lingkungan
gue terlibat besar dalam pembentukan pola fikir bodoh gue dulu. Tapi bukan
berarti gue yang sekarang itu lebih pintar, Cuma salahsatu dari banyaknya
kebodohan yang gue punya udah ada yang ilang aja. Gue sering dijejalkan dengan
kalimat-kalimat ‘bagaimanapun caranya, pokoknya nilai kamu harus bagus’.
Entah oleh guru di sekolah,
siapapun, ya pokoknya orang-orang sekitar. Karena mereka bilang, yang bisa
dibanggain ke oranglain adalah hasilnya. Merekamah sebodoamat sama prosesnya
gimana. Mau jujur kek, nyontek kek, belajar kek, lewat jalur samping kek,
nyeruduk kek, pokoknya kalo hasilnya bagus, ya bagus aja. Ya bangga aja.
Padahal, justru proses lah yang
membentuk seseorang.
Gue ngerasa, yang membuat gue bisa
sekuat ini adalah pengalaman pahit yang pernah gue telan. Bukan pujian-pujian
dari orang. Bukan perasaan senang saat nama gue disebutkan karena meraih
peringkat 3 besar. Rasa sakit yang bikin gue mikir. Rasa sakit yang bikin gue
tumbuh, dan jadi orang yang beda dari sebelumnya.
Rasa sakit tuh seolah-olah adalah
sebuah pertanda bahwa gue harus naek dari level gue yang sekarang. Ibaratnya,
kalo rasa sakit itu datang, gue kayak seolah diusir oleh si rasa sakit itu
dengan ‘MAJU LU SONOO!! TEMPAT LU UDAH BUKAN DISINI LAGI!’
Sedangkan perasaan senang karena
dipuji, bangga, membuat gue betah ada di posisi gue yang sekarang. Membuat gue
nggak mau gerak kemana-mana. Karena... ya mau gerak maju pun buat apa? Toh di
posisi yang sekarang aja gue udah banyak ngerasain enak.
Balik lagi ke topik awal.
Tapi, saat banyaknya moral muda-mudi
yang rusak.. bukannya melihat ke dalam kemudian mencari akar masalah, yang ada malah
menyalahkan orang. Gue semakin merasakan bahwa tradisi melemparkan kesalahan
ini masih sangat kental di budaya kita. Alih-alih mengakui kesalahan yang kita
lakukan kemudian meminta maaf, kita cenderung lebih sering menyalahkan keadaan,
situasi, atau bahkan oranglain agar kita tidak salah sendirian.
“Dia juga salah bu!”, “Loh, kok Cuma
saya doang? Kan dia juga sama!”, “Banyak yang lebih parah dari saya!”
Terdengar familiar, kan?
Gue kadang kalo lagi random, suka
mikir
Apa salahnya dengan berbuat salah?
Selama kita berstatus sebagai
manusia, sah-sah aja bagi gue melakukan salah. Selama salah lu adalah bukan
mempersekutukan Tuhan, apapun itu, Tuhan pasti memaafkan.
Mungkin sulit untuk meminta maaf
kepada manusia. Tapi, sulit bukan berarti nggak mungkin. Semuanya hanya soal
waktu. Setiap manusia pasti memiliki titik lemah. Titik dimana mereka akan
luluh. Selama kamu terus berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah kamu
lakukan itu.
Gue sering agak gemes gitu sama
orang yang jelas-jelas dia salah, tapi dia nggak mau mengakuinya. Buktinya udah
banyak, saksinya juga ada, tapi masih tetap menyalahkan orang, menyalahkan
keadaan.
Dan percaya deh, tidak mengakui
kesalahan yang telah kamu lakukan malah membuat oranglain semakin muak terhadap
kamu. Di UU aja bahkan ada pengurangan hukuman jika sang tersangka jujur dan
mau mengakui kesalahannya.
Mengakui kesalahan yang telah kamu
lakukan sama sekali tidak akan membuat kamu dipandang lemah dan rendah. Jika
beruntung, kamu akan diberi apresiasi berupa pengurangan hukuman itu. Entah itu
hukuman batin atau fisik.
Kejujuranmu akan dihargai. Keberanianmu
akan menyelamatkanmu dari pandangan buruk oranglain terhadap kamu. Jangan takut
untuk terus maju dan berbuat salah. Dan jangan lupa bertanggungjawab atas apa
yang pernah kamu lakukan.
Sekarang adalah hari ketiga gue
USBN. Gue bukan udah pinter jadi nggak belajar, Cuma gue kayak udah terlalu
muak buat buka buku pelajaran. Gue kemaren-kemaren udah banyak mengorbankan
waktu istirahat gue buat belajar. Makanya, gue sekarang milih nulis. Bosen aja
si. Plus pengen lebih produktif. Biar nggak terlalu sia-sia banget kebuang
waktunya.
Gue akhir-akhir ini lebih mendidik
diri gue sendiri buat diem dan nggak terlalu banyak omong. Gue lebih menarik
diri biar gue nggak keenakan ngomongin apa yang dilakuin oranglain. Gue lagi
nyoba ngontrol emosi dan nahan buat nggak ngomong disaat gue diomelin papap,
guru, atau temen yang nyebelin. Gue juga lagi nahan buat nggak ngeluh disaat
hari gue lagi buruk.
Sebagai cewek, gue tau, gue akui, seru
banget rasanya ngomongin orang atau ngomentarin hidup orang sama temen-temen
deket gue. Ngetawain bareng-bareng. Jelek-jelekkin mereka bareng-bareng. Gue nggak
memungkirinya, bahwa melakukan hal itu semua cukup menyenangkan.
Tapi, gue juga terkadang mikir, kalo
gue ada di posisi orang yang gue omongin itu gimana? Dinilai berdasarkan fisik,
dikomentari berdasarkan penggalan cerita yang bahkan gue nggak tau secara tepat
apakah cerita itu bener apa enggak. Dengan gue melakukan itu, berarti sama aja
kayak gue membentuk dan menuntut orang yang gue omongin agar mereka menjadi
sesuai dengan apa yang gue mau. Biar mereka nggak diomongin. Secara sadar atau
enggak, gue udah termasuk ke dalam golongan orang-orang kepo yang nggak punya
kerjaan terlalu mengurusi kehidupan orang.
Gue berarti menolak perbedaan. Menolak
kehendak Tuhan yang sudah dengan indahnya menciptakan kita lengkap bersama
lebih-kurangnya.
Jujur, susaaaahhhh banget
ngelakuinnya apalagi gue ada di lingkungan yang dekat dengan orang-orang yang
sudah gue sebutkan. Terlalu mengomentari kehidupan orang, terlalu sok tau sama
urusan orang, terlalu mengagung-agungkan sebuah nilai daripada usaha, terlalu
nyaman memberi makan ego semata agar dipandang ‘wah’. Susaaaahhh...
Gue pun kadang masih agak kebawa
sama kebiasaan mereka. Tapi, sekali gue inget, gue bakalan milih diem, atau
pergi dari orang-orang itu. Gue tau, resiko yang gue lakukan kalo gue ngelakuin
hal ini nggak kecil. Bisa aja gue dijauhin temen gue, bisa aja gue dianggap
berbahaya sama keluarga gue karena gue punya pemikiran beda sendiri. Gue tau.
Tapi gue fikir, selama agama gue
Islam, selama Tuhan gue Allah, gue nggak perlu takut ngelakuin hal itu. :)
Komentar
Posting Komentar