Menemukan.

Beberapa hari ini gue sering merenung tentang banyak hal.

Gue lagi penasaran sama apa yang ada di sekitar gue. Seperti halna batita yang masih belajar dan nggak tau apa-apa, gue pun sama. Cuma beda konteksnya aja.

Mengenai politik, mengenai keimanan gue, mengenai aturan-aturan yang secara nggak sadar udah sering gue jalani tanpa tau makna yang sebenarnya gue melakukan kalo itu tuh apa. Gue mulai berfikir banyak.

Termasuk tentang Tuhan gue, agama gue.

Jujur, belakangan ini seperti ada rasa penasaran yang membelenggu, tapi diselimuti oleh rasa takut. Gue nggak nanyain ke siapa-siapa karena gue takut dikafirkan oleh orang yang gue tanyai. Termasuk orangtua gue.


Orangtua gue adalah tipikal orangtua yang memegang teguh ajaran agama. Itulah yang menjadikan mereka seakan memiliki prinsip 'gapapa nggak berprestasi, seenggaknya anak-anaknya jadi anak yang sholeh dan sholehah'. 

Orangtua gue bakalan lebih marah kalo gue nggak sholat daripada nggak sekolah. Mereka bakalan lebih kesel kalo gue nggak ngaji daripada gue nggak belajar, walaupun gue cuma ngaji 1 ayat dalam satu hari itu, intinya nggak boleh ada hari yang dilewatkan tanpa ngaji.

Bahkan, nyampe memasukkan gue ke sebuah pesantren saat mereka melihat keanehan pola fikir gue.

Dulu, gue menganggap bahwa hal itu adalah hal yang menyebalkan. Bahwa hal tersebut adalah sebuah hal yang kolot, nggak sesuai dengan zaman, dan terlalu tertinggal. Gue sempet menganggap urusan dunia dan urusan akhirat adalah 2 perkara yang berbeda. Saat gue berurusan dengan manusia, gue sempet berfikir gue nggak perlu melibatkan agama gue. Yang gue perlukan cuma kemanusiaan serta sisi sosial gue.

Hingga akhirnya gue menggali dan menemukan sesuatu.

Gue suka baca. Tapi kalo baca buku-buku agama punya papap, gue enggan. Entah kenapa, rasanya males aja. Nggak ada ketertarikan gitu. Gatau.

Gue kemaren-kemaren sebenernya bertingkah biar dianggap normal aja. Ngeliat berita ulama gini gitu (tapi beda konteksnya dengan kakek gue), gue nggak merasakan apa-apa. Saat denger-denger penyerangan PKI pun, yang gue takutkan bukannya apa-apanya, gue takut gue dibunuh aja.

Gue hidup seperti di dalam buble gue sendiri. Gue nggak peduli sama hal-hal di luar gue. Gue menganggap, selama hidup gue bae-bae aja, buat apa gue mengkhawatirkan urusan-urusan lainnya. Politik, pemimpin negara, disintegrasi, buat apa. Kalopun gue pedulipun, nggak akan tiba-tiba negara gue tentram semata.

Gue sempet menganggap hal-hal itu adalah hal yang nggak penting gue ketahui. Yang ada di dalam otak gue cuma diri gue. Hidup gue. Sekolah gue. Karir gue nanti. Selalu gue, gue, dan gue.

Gue egois.

Sampe akhirnya, gue menyadari sesuatu.

Gini, walaupun gue sempet secuek itu sama agama dan lingkungan sekitar gue, bukan berarti gue lantas nggak mau menjalankan perintah-perintah yang ditanamkan oleh orangtua gue sejak kecil. Gue sholat, ngaji, seperti biasa walaupun terkadang gue menjalaninya dengan perasaan hampa.

Hingga suatu saat gue menonton videonya Gita Savitri Devi. Youtuber Indonesia yang tinggal di German.

Pertama kali gue nonton videonya dia itu saat gue nonton videonya yang tentang creator for change. Disana, dia menjelaskan untuk hidup saling berdampingan meskipun kita setiap manusia adalah makhluk yang berbeda. Heterogen. Bermacam-macam.

Dari situ, gue kepo sama dia. Kemudian gue follow instagramnya. Gue nonton beberapa videonya. Gue mulai semakin tertarik sama videonya yang berjudul "ber-islam feat Rizka Rahmayani" di salahsatu segmennya yaitu beropini. Disitu, gue baru tau kalo doi punya blog.

Gue search. Pelan tapi pasti, pertanyaan-pertanyaan gue tentang keislaman dan seputar agama gue, terjawab melalui video-video dan tulisannya.

Dan saat membaca tulisannya yang berjudul "Kepada Rasulullahku..."

Gue nangis.

Ya, gue nangis. Gue menangisi diri gue sendiri.

Betapa nggak tau dirinya gue. Betapa begonya gue dengan bertanya-tanya mengenai hal yang udah pasti jawabannya. Betapa gobloknya gue yang udah berfikir untuk memisahkan agama gue dan hal lainnya dalam hidup sedangkan gue sendiri dilahirkan dengan cara berislam, dan akan dikuburpun sesuai dengan ajaran Islam. Tapi saat gue diminta untuk hidup dengan membawa agama gue serta kemana-mana, gue enggan.

Gue nangis betapa gue selama ini nggak pernah mikirin lingkungan sekitar gue. Gue nangis karena selama ini yang gue fikirin cuma diri gue sendiri. Gue malu sama Rasul yang lebih mikirin gue sebagai ummatnya di saat-saat terakhirnya, sedangkan gue malah mengingat beliau cuma di saat hidup gue susah doang. Gue nangis betapa gue udah terlalu jauh melangkah menghindari agama gue.

Ya Rabbi..

Gue sungguh mengakui bahwa gue nggak tau apa-apa. Gue sungguh heran dan meringis memikirkan sikap gue sebelumnya. Kenapa gue nggak merasa sakit hati saat ulama gue ditangkap dan dihina? Mengapa hati gue malah merasa lebih tercabik saat gue ditinggal oleh mantan gue, daripada saat mengetahui kitab gue, pedoman hidup gue, peninggalan nabi gue, kenang-kenangan dari Rasul gue dihina?


Sungguh, gue lebih baik nggak perlu makan daripada gue nggak dapet hidayah....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.