Nyampah.
Gue nggak tau harus kayak gimana lagi dan ngomong apa lagi sekarang. Semuanya keliatan buruk. Bahkan gue merasa bahwa kali ini gue semakin menyakiti diri gue sendiri.
Siapa yang nggak mau dicintai?
Gue yakin, sebenci apapun orang sama orang, seskeptis apapun orang mandang cinta, semales apapun orang berurusan sama cinta, mereka sebenernya mau kalo dicintai.
Tapi kalo dicintai cuma sekedar..... pengganti?
Gue yakin, orang yang demen cinta-cintaanpun nggak mau ada di posisi itu.
And yah... here i am. Gue yang sekarang udah beda sama gue yang kemaren. Gue harus melewati fase-fase ini lagi. Fase dimana gue bener-bener berat dan sulit buat melangkah, fase dimana gue capek dan nggak mau terlibat cinta, fase dimana gue mengutuk diri gue sendiri karena udah bersikap bodoh sebelumnya. Gue secara tidak langsung membiarkan diri gue terperosok ke dalam lubang yang sama.
Hanya karena sebuah harapan.
Gue sayang dan gue tau betul diri gue sendiri. Hubungan kayak gini, semakin lama akan semakin menghancurkan gue. Tapi gue nggak sanggup untuk mengakhiri. Gue nggak mau lagi menyesal untuk yang ke dua kali.
Dan gue sekarang nggak bergerak kemana-mana. Diem di tempat. Terlalu lelah buat melangkah tapi terlalu jauh untuk kembali pulang.
Gue tau mungkin ini adalah fase bodoh yang akan gue sesali di masa depan.
Dan mungkin satu-satunya cara biar gue nggak semakin terpuruk dalam luka adalah bahwa gue menyadari patah hati dan jatuh cinta adalah sesuatu yang overrated. Biasa aja. Nggak ada istimewanya. Semua orang merasakan. Semua orang tau rasa manis dan pedihnya gimana. Ya biasa aja.
Toh, nanti hidup gue akan kembali normal.
Yang perlu gue lakukan adalah melakukan hal-hal yang nanti nggak gue sesali di masa depan. Menjadikan waktu-waktu yang gue punya untuk gue gunakan lebih produktif sebelumnya. Tanpa mengagung-agungkan patah hati atau jatuh cinta yang gue rasa karena semua perasaan itu... biasa aja.
Gue mencoba melatih diri dan mental gue untuk lebih stabil sekarang.
Gue nggak mau jadi orang yang cepet marah, gegabah dalam mengambil suatu keputusan, atau kembali merasakan menyesal. Gue nggak mau jadi orang yang emosinya kayak roller coaster yang sekalinya ada di atas di atas banget dan sekalinya jatoh, jatoh banget. Yang sulit banget dikendalikan sehingga membuat diri gue diperbudak oleh emosi yang gue punya. Gue mau lebih mengatur diri gue untuk nggak terbawa emosi dengan gampangnya.
Gue mau jadi orang yang lebih tenang. Yang nggak banyak bacot dimana-mana. Yang sekalinya bacot di tempat tertentu doang. Kayak disini, salahsatunya.
Gue udah mulai melatih ini dari sejak kemaren.
Gue nggak terlalu nyepam dimana-mana. Gue bakalan lebih menarik diri gue dari dunia maya. Gue nggak mau mengartiskan diri gue untuk hal-hal yang nggak bermanfaat, atau bermanfaatnya ternyata jatohnya cuma sekedar kepuasan gue doang. Gue nggak mau orang-orang yang nggak gue kenal, yang nggak akrab sama gue, bisa mendapatkan kabar gue dengan mudahnya semau mereka karena gue yang menyediakannya di media sosial.
Gue mau membiarkan orang-orang mencari tempat persembunyian gue dimana. Dan seandainya ada orang yang menemukan gue disini, itu berarti dia adalah orang yang bener-bener peduli.
Gue nggak mau termakan cinta lagi dan hidup sebagai budak emosi. Gue nggak mau hidup gue ancur cuma gara-gara cinta lagi.
Gue tau, mungkin sulit buat gue melakukan ini jika kebiasaan gue sebelumnya adalah ditemani. Tapi yang gue yakini adalah, sulit bukan berarti nggak mungkin. Buktinya, banyak temen-temen di sekitar gue yang enjoy sama hidup dan kesendiriannya. Dan mereka menjalaninya dengan baik-baik saja. Bahkan beberapa, malah ada yang tampak lebih stabil dan tenang jika menghadapi suatu masalah.
Gue bakalan banyak diem kalo emang itu adalah hal yang nggak penting-penting amat. Gue mau memperbaiki urutan prioritas gue yang sebelumnya berantakan karena cinta.
Nanti kalo gue kembali jatuh cinta, gue nggak akan lagi lupa bawa otak dan logika.
Siapa yang nggak mau dicintai?
Gue yakin, sebenci apapun orang sama orang, seskeptis apapun orang mandang cinta, semales apapun orang berurusan sama cinta, mereka sebenernya mau kalo dicintai.
Tapi kalo dicintai cuma sekedar..... pengganti?
Gue yakin, orang yang demen cinta-cintaanpun nggak mau ada di posisi itu.
And yah... here i am. Gue yang sekarang udah beda sama gue yang kemaren. Gue harus melewati fase-fase ini lagi. Fase dimana gue bener-bener berat dan sulit buat melangkah, fase dimana gue capek dan nggak mau terlibat cinta, fase dimana gue mengutuk diri gue sendiri karena udah bersikap bodoh sebelumnya. Gue secara tidak langsung membiarkan diri gue terperosok ke dalam lubang yang sama.
Hanya karena sebuah harapan.
Gue sayang dan gue tau betul diri gue sendiri. Hubungan kayak gini, semakin lama akan semakin menghancurkan gue. Tapi gue nggak sanggup untuk mengakhiri. Gue nggak mau lagi menyesal untuk yang ke dua kali.
Dan gue sekarang nggak bergerak kemana-mana. Diem di tempat. Terlalu lelah buat melangkah tapi terlalu jauh untuk kembali pulang.
Gue tau mungkin ini adalah fase bodoh yang akan gue sesali di masa depan.
Dan mungkin satu-satunya cara biar gue nggak semakin terpuruk dalam luka adalah bahwa gue menyadari patah hati dan jatuh cinta adalah sesuatu yang overrated. Biasa aja. Nggak ada istimewanya. Semua orang merasakan. Semua orang tau rasa manis dan pedihnya gimana. Ya biasa aja.
Toh, nanti hidup gue akan kembali normal.
Yang perlu gue lakukan adalah melakukan hal-hal yang nanti nggak gue sesali di masa depan. Menjadikan waktu-waktu yang gue punya untuk gue gunakan lebih produktif sebelumnya. Tanpa mengagung-agungkan patah hati atau jatuh cinta yang gue rasa karena semua perasaan itu... biasa aja.
Gue mencoba melatih diri dan mental gue untuk lebih stabil sekarang.
Gue nggak mau jadi orang yang cepet marah, gegabah dalam mengambil suatu keputusan, atau kembali merasakan menyesal. Gue nggak mau jadi orang yang emosinya kayak roller coaster yang sekalinya ada di atas di atas banget dan sekalinya jatoh, jatoh banget. Yang sulit banget dikendalikan sehingga membuat diri gue diperbudak oleh emosi yang gue punya. Gue mau lebih mengatur diri gue untuk nggak terbawa emosi dengan gampangnya.
Gue mau jadi orang yang lebih tenang. Yang nggak banyak bacot dimana-mana. Yang sekalinya bacot di tempat tertentu doang. Kayak disini, salahsatunya.
Gue udah mulai melatih ini dari sejak kemaren.
Gue nggak terlalu nyepam dimana-mana. Gue bakalan lebih menarik diri gue dari dunia maya. Gue nggak mau mengartiskan diri gue untuk hal-hal yang nggak bermanfaat, atau bermanfaatnya ternyata jatohnya cuma sekedar kepuasan gue doang. Gue nggak mau orang-orang yang nggak gue kenal, yang nggak akrab sama gue, bisa mendapatkan kabar gue dengan mudahnya semau mereka karena gue yang menyediakannya di media sosial.
Gue mau membiarkan orang-orang mencari tempat persembunyian gue dimana. Dan seandainya ada orang yang menemukan gue disini, itu berarti dia adalah orang yang bener-bener peduli.
Gue nggak mau termakan cinta lagi dan hidup sebagai budak emosi. Gue nggak mau hidup gue ancur cuma gara-gara cinta lagi.
Gue tau, mungkin sulit buat gue melakukan ini jika kebiasaan gue sebelumnya adalah ditemani. Tapi yang gue yakini adalah, sulit bukan berarti nggak mungkin. Buktinya, banyak temen-temen di sekitar gue yang enjoy sama hidup dan kesendiriannya. Dan mereka menjalaninya dengan baik-baik saja. Bahkan beberapa, malah ada yang tampak lebih stabil dan tenang jika menghadapi suatu masalah.
Gue bakalan banyak diem kalo emang itu adalah hal yang nggak penting-penting amat. Gue mau memperbaiki urutan prioritas gue yang sebelumnya berantakan karena cinta.
Nanti kalo gue kembali jatuh cinta, gue nggak akan lagi lupa bawa otak dan logika.
Komentar
Posting Komentar