28 Mei 2018
Halo blog, apa kabar?
Sebagai seorang remaja perempuan yang bentar lagi menginjak usia 18, gue
lagi ada di fase hidup dimana gue bingung sama hidup gue sendiri. dimana gue
jadi lebih sering mikir. di masa depan gue jadi apa. Apakah gue bisa sukses
atau enggak. Apa di masa depan hidup gue bakal dinyinyir dan dikomentarin
orang. Ataukah menjadi seseorang yang jalan hidupnya mulus tanpa kelokan
sehingga terjauh dari yang namanya diomongin sama orang banyak.
Sekarang-sekarang juga gatau kenapa rasanya gue males banget berinteraksi
sama orang dan maunya diem aja ngerem di kamar sendirian. Karena bagi gue dunia
luar itu berisik banget dan banyak distraksinya. Beberapa detik gue di luar
hanya sekedar jalan tanpa harus melakukan apapun juga pasti ada aja orang yang
liat kemudian komen gue entah secara ungkapan atau di dalem hatinya dia aja. Atau
bisa aja ada orang yang gue kenal liat gue dan dengan berbagai ekspektasi yang
dia punya ke gue padahal gue nggak pernah minta dia buat membangun
ekspektasinya itu.
Intinya, dunia luar itu berisik. Banget.
Entah mungkin hati gue yang penyakitan atau emang dunia isinya udah
kebanyakan racun semua, yang membuat gue akhir-akhir ini menjadi diem dan nggak
banyak nulis, ngomong, serta aktif di sosmed adalah karena gue takut.
Banyak orang di sekitar gue yang udah lebih sukses di umur gue sekarang.
Udah pada keterima di universitas impiannya. Ada juga yang udah mulai melukis
karirnya. Ada juga mungkin yang udah mulai menyusun rencana sama pasangannya. Ada
yang makin cantik. Sementara hidup gue masih gini-gini aja. Bahkan sekarang,
gue nggak tau diri gue mau dibawa kemana nantinya.
Apakah gue suatu saat nanti bakalan menjadi seorang mahasiswi aktif
entah di salahsatu univ negri atau swasta, yang dikenal banyak orang entah
sejurusan atau apa. Apakah gue yakin bahwa jurusan Hubungan Internasional yang
saat ini gue perjuangkan adalah emang keinginan dan passion dari dalam diri
gue. Gue nggak tau.
Begitu banyak kebingungan dan keraguan yang sering banget gue rasakan
sekarang. Gue takut kalo suatu saat nanti ternyata gue nggak bisa sukses
kemudian gue diomongin, dibandingkan sama orang-orang terdekat gue yang
pencapaiannya lebih banyak. Yang di umur sekian udah jadi anu, udah bisa ini
itu, sedangkan gue masih dengan gue yang untuk bisa ngobrol biasa dengan orang
aja perlu latihan berkali-kali di depan kaca.
Orang-orang sekitar gue Cuma tau apa yang terlihat di depan mereka tanpa
tau gue di belakang layar itu kayak gimana. Tanpa mereka tau gue kalo lagi
sendirian itu kayak apa.
Temen-temen SMA gue mungkin kebanyakan mengenal gue sebagai khalda yang
jago ngomong di depan, khalda yang kalo lagi presentasi bisa menguasai semua
materinya, khalda yang keliatannya udah pinter dari lahir, khalda yang selalu
bisa jawab setiap pertanyaan yang diajukan di saat sesi Tanya jawab, tanpa
mereka tau usaha gue kayak apa untuk bisa mencapai gue yang sekarang.
Atau pedihnya, mungkin mereka nggak peduli sama itu semua.
Mereka nggak tau gimana gemeterannya tangan gue setiap gue mau ngomong
di depan orang banyak, gimana gue pernah nangis bingung di WC diem-diem karena
gue takut dan mau mundur tapi nggak bisa karena udah terlanjur, mereka nggak
tau untuk memahami suatu hal baru, materi baru, gue harus baca semua hal itu
lebih dari 10 kali untuk bisa ngerti kemudian menjelaskannya lagi ke oranglain.
Mereka nggak tau dibalik kehidupan gue yang katanya kehidupan yang diinginkan
oleh orang banyak itu adalah sesosok anak tengah yang paling nggak punya
prestasi dibanding saudara-saudaranya yang lain.
Gue tau semua orang punya masalahnya masing-masing. Punya kesulitannya
masing-masing. Yang membuat kita diharamkan dan nggak dianjurkan buat sotoy
sama hidupnya oranglain. Tapi sayangnya, masih banyak orang-orang yang nggak
ngerti. Masih banyak manusia yang langsung komentarin suatu hal yang keliatan sama
mereka doang, tanpa mereka tau latar belakang dari yang mereka liat itu kayak
apa.
Mungkin bagi banyak orang hal ini sulit banget buat dilakukan.
Maka dari itu, gue nggak suka dan benciiiiii bangettt kalo ada orang
yang langsung komentarin gue berdasarkan dari apa yang mereka liat. Honestly,
gue paling lemah kalo sama ginian. Gue bisa down dan insecureeee selama
behari-hari atau bahkan berminggu-minggu hanya karena dijudge sama orang.
Membangun kepercayaan dirinya lagi tuh nggak segampang saat lo
ngancurinnya cuy.
Sedikit cerita, gue pernah berbuat salah yang cukup fatal. Kesalahan yang
gue buat pure murni karena gue tanpa paksaan orang. Kesalahan yang
kemaren-kemaren setiap gue ngingetnya membuat gue benci dan jijik sama diri gue
sendiri. membuat gue merasa nggak berguna. Membuat gue merasa bahwa kehadiran
gue Cuma membawa petaka dan masalah buat orang-orang di sekitar gue. Membuat gue
merasa gue nggak layak buat ngerasain enaknya hidup. Membuat gue ngejedotin
kepala dan menyiksa diri gue sendiri untuk mengurangi perasaan bersalah yang
gue rasain.
Gue stress berat.
Dan disaat kayak gitu, ada temen gue yang nggak tau apa-apa dan gimana-gimana
langsung koar-koar di media sosialnya. Ngejudge gue tanpa tau dan mikir dari
sudut pandang gue. Dan yang ada di fikirannya dia Cuma buruknya gue. Gobloknya gue,
brengseknya gue, bangsatnya gue, dan betapa hinanya gue kalo gue hidup.
Mungkin kalo di inget-inget semua labelling
buruk yang pernah gue terima, gue hampirr udah khatam semua. Gue pernah
dibilang sampah angkatan, udah lu idup nggak ada gunanya dan bisa lu Cuma nyusahin
orang sekitar lu doang, trouble maker, cheater, pinter tapi nggak punya akhlak,
sok galak, sok cantik, sok pinter padahal isi otaknya kosong, dan yang
lain-lainnya yang udah gue lupa.
Gue sedih. Sedih banget coy. Sebegitu hinakah gue. Senajis itukah gue. Nyampe-nyampe
kayaknya buat kesempatan memperbaiki kesalahan yang gue buat aja tuh kayaknya
nggak ada. Atau gue kayaknya terlalu buruk untuk dikasih kesempatan dan gue
sejak lahir ditakdirkan untuk berakhir di neraka sekeras apapun gue mencoba
untuk jadi lebih baik setiap harinya.
Kayaknya udah cukup. Postingan ini mungkin isinya ngeluh semua. Gue
nggak peduli. Udah keluar dari topic kebingungan gue. Gue juga nggak peduli. Ada
yang baca atau enggak, bermanfaat atau Cuma sampah. Gue nggak peduli.
Daripada makin panjang dan makin lama gue memaki, gue akhiri dulu nyampe
disini. Semoga postingan blog gue selanjutnya postingan yang isinya lebih
positif dari ini.
Komentar
Posting Komentar