Sekilas tentang Jakarta.
Haaaaiiii blogkuuuu.
Entah ada penghuninya atau enggak, gue nggak tau. Tapi gue kangen aja update disini. Gue tau ini blog sebenernya amat sangat unfaedah. Dan setelah gue fikir lagi, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa isi blog ini sebenernya kebanyakannya racauan.
Yap. Racauan.
Menurut KBBI, racau, meracau artinya adalah berbicara tidak karuan, mengigau, dan sejenis itu. Karena gue merasa gue lebih sering menulis disini saat otak gue lagi kacau dan carut-marut nggak karuan (walau gue juga nggak tau apakah ada saat dimana otak gue rapi, nggak kayak benang kusut yang diubek-ubek gajelas.) jadinya gue menyimpulkan demikian. Hm ya gitulah.
Noh bingung kan lu? Sama gue juga.
Oh ya, gue mau nulisin dulu kegiatan gue belakangan ini.
Alhamdulillah, gue akhirnya terdaftar menjadi seorang mahasiswi di salahsatu PTN Islam di daerah Tangerang Selatan. Sesuai dengan jurusan yang selama ini sempat gue ragukan karena gue merasa bahwa kemampuan gue nggak cukup memadai untuk bisa kuliah di jurusan itu. Yap. Akhirnya, gue saat ini resmi jadi mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang tinggal nungguin masuk ospek doang.
IT’S STILL HARD FOR ME TO BELIEVE IT DUDEEEEE.
Gue kalo nggak salah pernah nulis di postingan 28 Mei 2018 tentang keraguan gue kala itu. tentang betapa terombang-ambingnya gue dalam hidup. Tentang saat dimana gue bingung sama hidup gue sendiri. Tentang gue nggak tau harus gimana lagi dan ada beberapa bagian dimana gue menuliskan bahwa gue pengen menghilang aja dari dunia karena gue merasa bahwa dunia yang gue tempati sekarang nggak cocok sama gue. Entah itu terlalu berisik, terlalu ribut, terburu-buru, tergesa-gesa dan lainnya. Sedangkan gue adalah tipe manusia yang amat membenci itu semua dan betah ada di tempat yang tenang, hening, plus segala sesuatu gue nggak perlu mengerjakannya dengan dihantui rasa takut akan deadline tapi emang bener gue pengen ngerjainnya.
Dunia dimana gue bisa hidup tanpa ada paksaan dan hal-hal menyebalkan lainnya.
Ehem. Balik lagi ke tujuan awal. Gue kan mau bahas kegiatan gue akhir-akhir
ini ngapa jadi nyambung dan larinya kesana dah.
Iya gue akhir-akhir ini jadi bolak-balik Cianjur-Tangerang mulu. Capek sih,
banget. Ya lu bayangin aja, perjalanan 4 jam, dan gue selalu berangkat sebelum
subuh dan pulang sekitar jam 10-11 malem. Setelah klarifikasi UKT, gue kemaren
balik ke Tangerang lagi buat daftar ulang plus temu sapa sama anak fakultas. Dan
hari selasa tanggal 24 gue harus udah balik lagi kesana buat ikutin test TOEFL
dan TOAFL.
Parahnya, saat ini gue baru buka-buka buku TOEFL sekilas doang.
Sumpah ya secapek itu si bolak-balik perjalanan yang memakan waktu
kurang lebih 4 jam buat nyampenya. Pinggang gue pegel, tidur gue keganggu, dan
gue jadi lebih sering nahan laper karena gue suka lupa gitu kalo gue belom
makan saking gue terlalu fokus sama kegiatannya.
Dari bolak-balik itu, gue akhirnya dapet temen. Gue jadi kenal sama
kakak tingkatnya juga. Plus 1 hal yang saat ini amat sangat gue syukuri adalah,
gue dikelilingi oleh orang-orang yang pola fikirnya bikin gue cengo dan cukup
berhasil membuat kepercayaan gue terjun bebas ke angka nol.
Gini masalahnyatuh, orang-orang yang gue temui kemaren itu banyak yang
pada pinter-pinter, tapi mereka nggak menganggap gue remeh atau gimana hanya
karena gue banyak nggak taunya. Belom lagi ternyata, TERNYATA, Cuma gue doang
di pertemuan kemaren orang sundanya di jurusan. Kebanyakan dari mereka
sekitaran Jakarta dan daerah Jabodetabek. Yang beda hanya gue sama ada temen
gue yang dari Medan.
Selain itu, gue bersyukur akhirnya gue bisa bikin mamah seneng. Mamah jadi
bisa ketemu sama temen-temen lamanya yang tinggal di daerah sekitaran Jakarta
yang udah bertaun-taun nggak ketemuan. Ngedenger cerita antusiasnya di jalan
pulang, terus papap juga jadi lebih meluangkan waktunya buat mamah. Saat ini,
nggak ada misi lebih besar dalam hidup gue selain menjadikan mereka orang
paling bahagia di dunia.
Gue juga menerima banyak respon dari orang-orang sekeliling gue. Entah mereka
menyimpan banyak ekspektasi besar ke gue karena jurusan yang gue ambil, heran,
nyampe beberapa ada yang nyinyir plus julid dengan cara yang sopan.
“Ngapain ke
daerah Jakarta. Macet. Gerah. Pengap. Orang Jakartanya aja banyak yang nggak
betah. Lah ini malah kesana.”
“Kenapa nggak
di Bandung aja?”
“Enakan juga
Bandung. Adem. Deket.”
“Iiihh
Jakarta kan Biaya hidupnya mahal.”
Dan kalimat sejenis itu semuanya gue telen.
Gue nggak terlalu ngambil pusing si sama orang-orang yang bilang gitu. Ya
wajar, namanya juga mereka nggak tau. Plus karena peminat dari kota gue buat
kuliah di daerah sekitaran Jakarta yang kecil banget bahkan nyaris nggak ada
yang minat, membuat gue nggak lagi heran ketika gue mendapatkan respon
demikian. Kalo yang ngomongnya orang yang nggak deket-deket banget, gue bakal
bales omongan mereka make senyum. Kalo deket, gue agak jelasin dikit dengan
jawab bahwa gue jauh-jauh dari Cianjur ke Jakarta itu buat cari ilmu. Bukan buat
liburan, maen, atau foya-foya. Dan gue nggak bakalan dapet ilmu itu kalo gue Cuma
diem di Cianjur atau di Bandung doang.
Gue tau biaya hidup di sekitaran Jakarta itu nggak murah. Tapi, mungkin
bagi Allah disitu adalah tempat dimana gue bisa mendapatkan berkah. Karena kalo
gue disuruh buat jujur sejujur-jujurnya, gue nggak bakal milih Jakarta sebagai
tempat gue nyari Ilmu. Tapi setelah gue fikir lagi, buat apa kuliah di kota
lain kalo orangtua gue nggak ridho gue kuliah di tempat yang gue mau. Bahagia atau
tidaknya hidup gue, mudah atau enggaknya gue menjalani hidup, sebagian besar
adalah karena faktor keridhoan orangtua gue atas hidup gue. Karena yang sulit
didapat itu bukan ilmunya, tapi berkahnya. Bermanfaat atau enggaknya ilmu yang
gue punya. Karena sesungguhnya, gue nyari ilmu dan dibuat menjadi tau itu ada
tujuannya. Dan tujuan itu nggak lain dan nggak bukan adalah buat berguna bagi
orang sekitar gue. Buat lingkungan gue. Menjadikan semuanya lebih baik daripada
sebelumnya. Diluar hal itu, bonus. Karena percuma rasanya kalo gue punya gelar
banyak, pekerjaan bagus dengan gaji gede, kalo ternyata semua hal itu nggak
berkah dan nggak bisa jadi manfaat buat orang-orang sekitar gue. Percuma.
Gue tau udara Jakarta itu panas. Tapi gue nggak keberatan kalo
dibandingin sama apa yang bisa gue dapetin disana. Gue tau Jakarta itu nggak
deket, dan pasti membuat gue jarang pulang ke rumah. Hal itu berarti gue
bakalan jarang juga ketemu sama orangtua. Tapi, gue pergi bukan karena gue
nggak sayang sama mereka. Justru gue melangkah jauh dari kota kelahiran gue
karena gue sayang sama orangtua gue dan gue pengen jadi orang yang berguna. Jadi
anak yang bisa buat mereka nggak perlu lagi mikirin finansial di masa tua
mereka. Gue mau menjadikan orangtua gue bisa tenang beribadah dan menikmati
hidup di masa tua mereka. Gue mau jadi berbakti karena gue tau, gue dulu adalah
seorang anak yang paling sering bikin mereka nangis.
Dosa gue ke orang sekitar gue udah nggak bisa keitung lagi. Gue pengen
nebus semuanya dengan kebaikan yang bisa gue lakukan. Gue pengen jadi manusia
yang berhasil melaksanakan semua misinya di dunia. Gue diciptakan sama Allah
dengan suatu tujuan, dan semoga gue suatu saat nanti meninggalkan dunia ini
setelah semua tujuan gue diciptakan ke dunia ini udah kecapai.
Kayaknya segitu dulu aja deh. Gue bingung mau nulis apalagi.
Hehhe.
Entah ada penghuninya atau enggak, gue nggak tau. Tapi gue kangen aja update disini. Gue tau ini blog sebenernya amat sangat unfaedah. Dan setelah gue fikir lagi, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa isi blog ini sebenernya kebanyakannya racauan.
Yap. Racauan.
Menurut KBBI, racau, meracau artinya adalah berbicara tidak karuan, mengigau, dan sejenis itu. Karena gue merasa gue lebih sering menulis disini saat otak gue lagi kacau dan carut-marut nggak karuan (walau gue juga nggak tau apakah ada saat dimana otak gue rapi, nggak kayak benang kusut yang diubek-ubek gajelas.) jadinya gue menyimpulkan demikian. Hm ya gitulah.
Noh bingung kan lu? Sama gue juga.
Oh ya, gue mau nulisin dulu kegiatan gue belakangan ini.
Alhamdulillah, gue akhirnya terdaftar menjadi seorang mahasiswi di salahsatu PTN Islam di daerah Tangerang Selatan. Sesuai dengan jurusan yang selama ini sempat gue ragukan karena gue merasa bahwa kemampuan gue nggak cukup memadai untuk bisa kuliah di jurusan itu. Yap. Akhirnya, gue saat ini resmi jadi mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang tinggal nungguin masuk ospek doang.
IT’S STILL HARD FOR ME TO BELIEVE IT DUDEEEEE.
Gue kalo nggak salah pernah nulis di postingan 28 Mei 2018 tentang keraguan gue kala itu. tentang betapa terombang-ambingnya gue dalam hidup. Tentang saat dimana gue bingung sama hidup gue sendiri. Tentang gue nggak tau harus gimana lagi dan ada beberapa bagian dimana gue menuliskan bahwa gue pengen menghilang aja dari dunia karena gue merasa bahwa dunia yang gue tempati sekarang nggak cocok sama gue. Entah itu terlalu berisik, terlalu ribut, terburu-buru, tergesa-gesa dan lainnya. Sedangkan gue adalah tipe manusia yang amat membenci itu semua dan betah ada di tempat yang tenang, hening, plus segala sesuatu gue nggak perlu mengerjakannya dengan dihantui rasa takut akan deadline tapi emang bener gue pengen ngerjainnya.
Dunia dimana gue bisa hidup tanpa ada paksaan dan hal-hal menyebalkan lainnya.
Komentar
Posting Komentar