CERPEN: Kejutan dari Semesta
Pernahkah kau jatuh cinta pada
seseorang yang kau tau bahwa kau tak akan pernah bisa mengukir masa depan
bersamanya?
Pernahkah kau jatuh cinta pada
seseorang yang kau tau bahwa ia tak akan membalas apa yang kau rasa?
Pernahkah kau jatuh cinta pada
seseorang yang kau merasa tak keberatan sama sekali meskipun ia tidak
mengajakmu untuk membuat kisah bersama?
Jika iya, apakah kau menikmatinya?
Apakah kau bahagia saat mencintainya?
Karena saat ini aku akan berkisah tentang
seseorang yang selalu membuatku tersenyum saat mengingatnya, meskipun ia tak
tahu bahwa namanya selalu tersimpan dalam kepala.
***
Ia adalah seseorang yang baik hati.
Setelah pertemuan itu, aku selalu
merasa bahwa semesta selalu memberikan kejutan-kejutan yang mengagumkan.
Kejutan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi dalam alur kehidupan.
Kejutan yang memberiku pengertian baru bahwa jatuh cinta tak pernah memiliki
tenggat waktu kadaluarsa.
Kemeja biru polos adalah pakaian
yang ia pakai ketika pertama kali aku bertemu dengannya di sebuah tempat travel
yang keberangkatan terakhirnya tak lagi memiliki bangku kosong untuk para
penumpang yang datang terlambat. Waktu itu, aku hendak pulang setelah bertemu
dengan kekasihku di kota sebelah. Nyaris menangis karena kebingungan akan
kendaraan pulang yang tak lagi ada jatah untuk kembali membawaku ke kota asal
plus takut dimarahi mama saat teringat dosa yang aku lakukan bahwa sebelum
berangkat aku malah berkata akan pergi bersama teman padahal nyatanya sendirian.
Ia menghampiriku saat aku duduk
kebingungan sambil menatap kosong ke arah jalanan kota yang mulai menggelap.
“Maaf mbak, butuh seat buat kemana?”
tanyanya sambil memegang tas besar di tangan kanannya dan sebuah ransel di
punggungnya.
Aku menyebutkan kota tujuan. Kota
tempat rumahku berdiri dengan gagah. Kota kecil yang meskipun aku tak pernah
berkata bahwa aku mencintainya, tapi pada kenyataannya malah aku rindukan saat
aku tidak ada disana.
“Ah, kebetulan saya ada acara mendadak di
kampus besok pagi. Jadi saya tidak jadi pulang hari ini.” Ucapnya dilanjut
dengan tawaran untuk membeli kursi yang telah ia pesan padaku yang saat itu
sudah berkaca-kaca karena ketakutan tidak bisa pulang.
Seperti debu yang disiram air,
kekhawatiranku tak bisa pulang saat itu sirna seketika. Terimakasih
berkali-kali kuucapkan padanya. Setelah berbicara kepada pihak travel untuk
mengkonfirmasi bahwa atas nama dia akan diduduki olehku, kami kemudian duduk
sebelahan. Aku untuk menunggu mobil travel yang terjebak macet di jalan,
sedangkan ia entah karena apa.
Ia memperkenalkan nama. Aku dengan
takut-takut mengiyakan. Saat itu, yang ada di fikiranku adalah perintah untuk
tetap waspada karena bagaimanapun juga ia adalah orang asing yang aku tak tahu
asal-usulnya. Juga tak akan pernah terbayangkan akan jatuh cinta padanya.
Tapi rasa takut itu perlahan meluruh
setelah semakin lama aku larut dalam ceritanya dan sikapnya yang menyenangkan.
Ia bercerita banyak padaku tentang dirinya. Tentang mamahnya yang selalu saja
masih menganggapnya anak kecil hanya karena ia anak terakhir, tentang letak
rumahnya yang berbeda dengan daerah yang aku tinggali meskipun kami tahu kota
asal kami adalah sebuah kota kecil, tentang kesukaannya pada kucing dan ia
mengatakannya ketika ada kucing hamil yang berjalan melewati kami, dan sampai
saat ini, aku tidak tahu mengapa ia mau duduk dan menemaniku bercerita hingga
mobil travelku datang.
Saat itu, aku belum jatuh cinta
padanya. Karena aku menganggap hal itu sebuah kebetulan. Hingga semesta
berbicara padaku bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini pasti memiliki
alasan.
***
Besoknya, aku menjalani hidup
seperti biasa. Bangun pagi, pergi ke sekolah, mendengarkan guru mengajar,
mengerjakan tugas, pulang ke rumah, hingga tidur lagi kemudian. Hari-hariku
juga ditemani oleh kekasihku yang saat itu aku temui di kota sebelah meski kami
berhubungan hanya lewat chat atau video call. Aku melupakannya. Aku melupakan
ia, lelaki berkemeja biru itu.
Setiap hari siklusnya seperti itu.
Banyak hal tidak berubah. Dunia berjalan biasa saja. Aku juga menjalani hari
tanpa sedikitpun perasaan akan bertemu dengan lelaki yang menyukai kucing itu
lagi.
Hingga hari-hari kelamku datang.
Rasa bosan dan jenuh melanda. Kekasihku saat itu semakin sering membuatku
tersiksa dan menangis karena semakin lama hubunganku dengannya semakin terasa
menyedihkan. Aku sangat ingat, malam itu, besoknya aku hendak melaksanakan
ujian. Namun, aku harus menelan kenyataan pahit bahwa hubunganku dengan
kekasihku hanya sampai saat itu saja.
Beberapa minggu aku lewati dengan
menangisi kisah cintakuku yang berakhir menyedihkan di kamar. Beberapa hari aku
habiskan dengan menuliskannya di kala aku merindukannya. Beberapa ratus menit
aku harus berjuang melawan kesepian. Dan beberapa ribu detik harus aku lewati
dengan mengabaikan perasaanku yang hancur tak bersisa untuk tetap fokus
menghadapi ujian sekolah.
Apakah lelaki berkemeja biru itu
datang untuk mengusir kesedihan yang aku rasakan? Tidak. Tuhan tidak
mengirimkan ia padaku untuk mengusir rasa sepiku, tapi mengirimkannya padaku
untuk menjadi sosok yang selalu menolongku di saat aku butuh.
Beberapa bulan berlalu, dan aku
lulus dari sekolah menangah atasku dengan nilai yang tidak mengecewakan.
Kemudian setelahnya menerima kabar baik aku diterima di salahsatu PTN favorit
di kota lain. Kota yang saat ini aku tinggali.
Waktu itu, aku masih bolak-balik
antara kota tempatku berkuliah dan kota tempat tinggal. Aku selalu ditemani
mama-papa karena kota tempat kampusku terletak tidak dekat dengan rumah. Hari
itu, di kampusku ada acara untuk bertemu dengan teman dan kakak tingkat satu
fakultas. Karena acaranya cukup lama, mama memutuskan untuk menungguku di rumah
temannya yang ada di daerah lain yang jaraknya lumayan tidak terlalu dekat juga
dengan lokasi kampusku. Aku mengiyakan karena mereka bilang akan menjemputku
kemudian jika aku sudah selesai. Dan aku tidak pernah membayangkan kejadian
waktu itu akan berulang walau kejadiannya agak berbeda.
30 menit sebelum acara selesai, aku
menghubungi mama untuk segera kembali menjemputku ke kampus. Mama mengiyakan.
Tapi, sampai akhir acara mama belum juga datang. Aku menunggu di depan fakultas
untuk beberapa saat. Mencoba menghubungi mama dan papa tapi kedua hal itu
percuma karena ponsel mereka sama-sama dimatikan entah karena apa. Lagi, waktu
itu aku harus berada di kota orang sendirian.
Satu jam menunggu, namun hasilnya
tetap sama. Teman-teman dan kakak tingkatku satu persatu mulai pamit pulang.
Perutku mulai lapar. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke minimarket yang
letaknya persis di samping kampus. Membeli roti dan minum, lalu duduk di kursi
minimarket yang tersedia.
Saat aku sedang makan, datang motor
dengan seorang lelaki berjaket hitam dengan kaos biru di dalamnya. Ia melihat
ke arahku sekilas setelah memarkirkan motornya. Kemudian masuk ke minimarket.
Sedangkan aku tetap dengan roti yang aku makan.
Tepat saat aku hendak berdiri untuk
membuang bungkus roti yang sudah habis, ia keluar dari minimarket. Ia keluar. Mata kami
bertemu. Ia kemudian tersenyum dan menghampiriku setelah memastikan namaku.
Waktu itu aku kebingungan dan agak
takut. Pasalnya adalah, aku belum mengenal siapa-siapa selain teman kampus
baruku dan kakak tingkatnya. Akupun belum mulai tinggal disana. Seolah bisa
membaca keherananku, ia kemudian tertawa dan kemudian menceritakan kejadian di
travel itu.
Aku akhirnya tersenyum dan menjabat
tangannya saat berhasil mengingatnya. Menanyakan kabarnya, bagaimana ia bisa
ada di kota yang berbeda dengan waktu pertemuan pertama. Ia kemudian duduk di
bangku sebrang tempat tadi aku makan. Membuka minuman yang ia beli dari
minimarket untuk akhirnya bercerita.
Ia berkata bahwa kuliahnya sedang
libur dan saat ini ia tinggal di rumah kakaknya untuk mengisi liburannya.
Seperti yang bisa kau tebak, ia menemaniku disana dengan bercerita dan berbagi
tawa sampai kedua orangtuaku datang 1 jam kemudian. Sebelum bercerita banyak ia
juga menanyakan mengapa aku ada di kota yang berbeda. Setelah aku ceritakan
kejadiannya, ia meminta maaf karena tidak bisa mengantar sebab ia tidak
memiliki helm dua dan kakaknya tidak punya motor juga. Sedangkan kota tempat
kampusku itu adalah kota besar yang pastinya di setiap jalan ada polisi
dimana-mana. Terlalu berbahaya untuk nekat.
Untuk kedua kalinya kami larut dalam
percakapan sore. Namun untuk kali ini, aku dengannya sempat untuk bertukar
kontak sebelum aku pulang. Ia memang orang baik hati yang menyenangkan. Lelaki
berkemeja biru itu memiliki sorot mata teduh menenangkan. Membuat siapapun yang
berbincang dengannya betah berlama-lama karena kelihaiannya dalam membuat topik
pembicaraan. Memiliki tinggi yang mampu membuatku merasa jadi sangat kecil jika
berjalan sebelahan. Kulitnya agak gelap khas lelaki Indonesia pada umumnya.
Namun senyumnya membuat dirinya tidak sama dengan lelaki manapun di dunia.
Setelah itu, kedekatan kami
berlanjut di dunia maya. Aku semakin intens berhubungan dengannya, walau aku
sendiri saat itu tak tahu mengapa ia tidak memberikan kejelasan setelah
akhirnya 3 bulan dekat. Tapi waktu itu aku tidak mau memaksanya untuk segera menjadikanku
kekasihnya. Aku tidak mau ia melakukan hal yang tidak mau ia lakukan.
Hingga suatu siang di hari rabu,
setelah aku pulang dari kampus dan sedang membuka kunci pintu kossan-ku, aku
menerima sesuatu dari teman tetangga kossanku. Sebuah kiriman. Ah mungkin lebih
tepatnya, sebuah undangan.
Dan ada namanya tertulis disana.
Bersama dengan satu nama wanita setelahnya.
Ah, semesta selalu saja senang
memberikan kejutan pada manusia, kan?
***
Komentar
Posting Komentar