Jakarta dan Pergaulannya.


Entah kapan terakhir kali saya nulis disini, soalnya akhir-akhir ini emang hawanya males mulu. Boro-boro buat nulis dan update serta ngurus blog, tugas kuliah aja mager ngerjainnya. Tapi saat ini, meskipun tugas resensi, makalah, dan powerpoint beberapa matkul belom dikerjain, izinkan saya buat ngoceh dulu disini.

Mari bahas Jakarta lagi. Gak abis-abis, ya?

Saya masih nggak tau tujuan dari saya menuliskan ini apa. Mungkin jelasnya, saya hanya ingin memberitahu sebagai pihak yang merasakannya langsung kepada mereka-mereka yang sotoy ngomong kanan kiri tentang hal yang itu-itu mulu. Membuat wajah Jakarta yang emang sedari awal gak cakep-cakep amat ini jadi makin gak cakep. Jadi ya intinya yaudah gitu, udahmah gak terlalu cakep tapi gak terlalu jelek juga, jangan diomongin dan diungkit yang jelek-jeleknya doang. Udahlah. Toh setiap tempat punya buruknya sendiri-sendiri. kenapa yang disorot selalu buruknya mulu coba?

Untuk yang berada di luar Jakarta, saya paham mungkin ada pengaruhnya juga dari media apalagi tv yang selalu menunjukkan gemerlapnya Jakarta, makanya tercipta stigma yang seperti ini. Tapi percayalah, sebelum merasakannya langsung, nggak usah terlalu percaya sama hal-hal yang sebenernya gak seburuk itu pada kenyataannya.

Apalagi dengan berkata “Pergaulan Jakarta terlalu bebas.” , “Anak muda Jakarta banyak yang gak bener.” , “Gaya hidup di Jakarta udah jauh dari aturan agama.” Dan sebagainya, dan semacamnya.

Bukan main, gak sekali dua kali saya menerima omongan-omongan semacam itu. Gak sedikit orang sekitar saya menganggap kehidupan di Jakarta segemerlap, sekejam, dan sedosa itu. Tapi iya sih, jujur sayapun dulu pernah menganggapnya demikian. Kota yang terlalu berisik. Tidak cocok dijadikan sebagai kota untuk menetap, apalagi untuk merantau mencari ilmu untuk bekal mengarungi kehidupan.

Karena pengaruh media yang lebih sering menampilkan sisi jelek Jakartanya doang daripada sisi lainnya yang sebenarnya lebih banyak dan beragam juga.

Iya. Realitanya gak segemerlap itu kok. Gak sedosa itu juga kok. Gak sehedon yang media-media sering sorot. Banyak juga loh orang Jakarta yang suka majelisan. Banyak juga loh anak muda Jakarta yang berprestasi di sekolah-sekolahnya, bahkan nyampe dapet beasiswa kemana-mana. Banyak juga orang Jakarta yang masih menyimpan nuraninya, seperti waktu pertama kali saya naik busway dan ada seorang perempuan mungkin seumuran saya memberikan bangkunya sama ibu-ibu yang agak tua, teman dekat saya yang selalu membeli kerupuk karena salut sama penjualnya yang buta tapi masih semangat jualan, pemuda random yang saya lihat memberikan makanan sama kakek-kakek penjual tisu yang lagi duduk di pinggir jalan Blok M yang kecapean, dan saya yakin masih banyak kebaikan-kebaikan dari orang-orang Jakarta yang sebenarnya ada dimana-mana, tapi tidak terlalu disorot dan lebih sering diabaikan begitu saja.
Saat inipun, berarti sudah kurang lebih 2 bulan saya hidup di kota metropolitan ini, tapi saya baik-baik saja. Saya jarang setelah isya masih ada di luar kost-an. Kalopun iya paling ke McD yang jaraknya gak nyampe 1 kilo doang, atau enggak abis nonton bareng temen, atau ke indomaret kalo pengen beli cemilan. Dan itupun gak sering. Malah terhitung jarang banget. Selain karena emang saya gak mau menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang gak terlalu berguna-berguna banget, saya juga males buat keluar malem.

Jadi, yah untuk yang berpikir pergaulan Jakarta gak sehat, gak baik, mungkin kembali lagi ke setiap individu masing-masing. Mengutip quotesnya Buya Hamka ‘kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.’ Seperti itulah kurang lebih saya disini. Karena Alhamdulillah alih-alih saya terbawa ‘pergaulan keras Jakarta’ yang sering jadi aggapan buruk orang luar, saya justru disini dikelilingi orang-orang hebat yang luar biasa. Ada yang punya hafalan Quran lebih dari 5 juz, ada yang pengetahuannya banyak banget karena rajin baca buku, ada yang semangat cari beasiswa dan pengalaman disana sini situ, dan banyak orang-orang positive lainnya yang jauh dari stigma yang melekat di dalam pikiran orang yang gak tinggal di Jakarta itu sendiri.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menyampaikan bahwa tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Termasuk kota manapun yang kita tinggali. Mereka memiliki lebih dan kurangnya masing-masing. Tapi itulah yang membuat dunia ini sempurna. Itulah yang membuat semuanya istimewa di mata setiap manusia. Kekurangan dan kelebihan satu kota dan kota lain saling mengisi dan hal itu membuat dunia ini keren dengan cara rumit yang sederhana.

Tuhan memang selalu pandai membuat ciptaannya kagum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.