Semuanya karena harapan.
Mungkin kalian udah sering denger perihal ini. Atau mungkin bagi beberapa diantara kalian berpikir bahwa topik ini udah basi. Tapi, untuk gue yang baru-baru ini benar-benar merasakan dan menyadari hal ini, gue mau tulisin dan bahas tentang hal ini disini.
Gue ingetin lagi, siapatau diantara kalian udah lupa tentang hal ini; kebanyakan perasaan tidak menyenangkan seperti kecewa, patah hati, dan hal semacamnya yang kita rasakan selama ini datangnya dari harapan yang kita ciptakan sejak awal. Harapan yang tidak seharusnya ada. Harapan yang meskipun kalian lihat ada celah untuk bisa terwujud nyata, tapi itu tidak menjamin bahwa ia akan benar-benar menjadi nyata.
Harapan ini bisa berbentuk apa aja. Dalam konteks yang macam-macam juga. Gak hanya berbentuk cinta, bisa juga hal lainnya.
Oke, gue ada sebuah contoh cerita.
Jadi, gue ada temen. Tidak seperti gue yang mageran dan ogahan plus amat sangat selektif dalam memilih kegiatan selama perkuliahan, temen gue ini terbilang cukup atau bahkan sangat aktif dalam kegiatan dalam dan luar kampus. Semua kegiatan dan event yang ada dia babat habis. Cobain satu-satu nyampe dia ngeluh mulu.
Tapi, ngeluhnya selalu diselipkan kalimat harapan diakhirnya.
"Gila, Capek banget hari ini. Tapi semoga lelahku ini bisa terbayar dan menghasilkan sesuatu suatu saat nanti."
di bagian huruf yang sengaja gue gedein itu adalah sebuah harapannya buat masa depan. Bisa disimpulkan bahwa dia berharap suatu saat nanti keringat dan jerih payah yang dia keluarkan akan dibayar dengan hal yang sepadan juga. Atau akan menjelma menjadi sesuatu yang membuatnya bahagia.
Hilih. Kata siapa?
let me tell you, Dunia ini nggak seramah dan sedermawan itu untuk mau membalas semua yang lu korbankan dan keluarkan.
Belive it or not, trust me hidup ini berjalan dengan cara yang aneh. Cara-cara yang sering tidak kita pahami dan mengerti. Cara-cara yang gak jarang bikin kita mengeryitkan dahi. Gue yakin, gak cuma satu atau dua orang yang punya temen dia gak pernah belajar tapi nilainya bagus mulu. Sedangkan lo yang belajar mati-matian peringkatnya selalu ada di bawah dia mulu.
Darisitu aja udah bisa dijadikan contoh, dunia ini bergerak dengan cara yang abstrak. Nggak ketebak. Mahiwal.
seidealis dan optimis apapun lo, realitanya emang udah kayak gitu. Nggak bisa seenak pantat lu ubah. Nggak bisa.
Kembali lagi ke cerita temen gue. Disitu setelah dia capek-capek mengeluarkan keringat dan jiwa raganya untuk seluruh kegiatan yang dia ikuti tapi dia melakukan hal itu atas dasar sebuah harapan yang belum pasti, ketika harapannya nggak terwujud, ketika ternyata masa depannya tetep susah juga, gue yakin hal yang akan terjadi setelahnya adalah, dia akan jatuh dan kecewa karena harapannya gak jadi nyata. Karena ekspektasinya yang ternyata tidak terealisasikan. Padahal sejak awal, dunia ini tidak pernah meminta dan memerintahnya untuk mengeluarkan keringatnya.
Pun termasuk dalam konteks percintaan.
Gue baru menyadari sesuatu, yang membuat seseorang sulit lepas, sulit move on, sulit melupakan, sebenarnya bukan hanya karena faktor kenangannya doang. Tapi karena masih mempercayai dan memegang harapan yang gak seharusnya tercipta sejak awal.
harapan bahwa lo akan terus seperti itu sepanjang hayat sama dia, harapan lo akan ada di pelaminan yang sama, punya anak yang lucu, hidup menjadi tua bahagia, dan harapan-harapan yang TIDAK SEHARUSNYA LO CIPTAKAN SEJAK AWAL.
Gue sekarang lebih menyarankan aja si, ketika lo menjalin hubungan sama seseorang, mendingan fokus sama yang ada sekarang aja. Dijalanin dan nikmatin apa yang lo miliki saat ini. Kalopun mau buat rencana, jangan yang jauh-jauh. Karena ketika harapan itu ternyata gak terwujud, lo gak akan terlalu nyusruk.
Lagipula, sebenarnya bukan tugas kita menyusun dan menciptakan rencana terlalu jauh. Udah ada yang atur, tenang aja, bosku.
Salam,
Dari yang ngetik sambil minum kopi di mekdi.
Komentar
Posting Komentar