Tentang Menulis dan ucapan terimakasih

Setiap ditanya gimana caranya nulis, gue selalu bilang hal yang sama; nulis aja.

Iya. Gue gak ada cara khusus yang menggerakkan gue untuk menuliskan sesuatu. Gue gak ada minuman atau makanan spesial yang bisa membuat gue lancar untuk menuangkan perasaan.

Untuk urusan kopi, gue hanya minum untuk kebutuhan diri.

Kalo lo perhatikan, tulisan gue bentuknya selalu urakan. Seringnya gak runtut. Mencla-mencle enggak jelas. Inilah yang menjadi keraguan gue untuk meng-uang-kan hobi gue ini. Setiap gue bercerita, gue lebih sering menuliskan hal-hal yang mau gue tulis aja. Bukan sesuai dengan urutan dari setiap hal yang terjadi.

Gue juga masih belum sepede itu dengan tulisan gue.

Gak ada alasan lain selain untuk menjaga kewarasan diri. Iya, gue menggunakan nulis sebagai terapi. Sebagai seseorang yang lebih sering mengurung diri, merasa diri tidak penting sehingga membuat gue berpikir masalah yang gue ceritakan nggak akan ada orang yang peduli juga, sebagai orang yang sering menarik diri dari kerumunan dan khalayak ramai tapi pada akhirnya suka merasa sedih dan tertekan  karena ditampar sama keheningan dan rasa nggak enak berkomunikasi sama benda yang tak bernyawa, gue menulis untuk mencegah gue agar tidak gila.

Banyak support positif dari mereka yang suka membaca apa yang gue tulis. Beberapa mencoba mendorong gue untuk memasukkan tulisan gue ini ke dalam industri. Bukan tak ingin, bukan karena udah banyak duit, juga bukan terlalu idealis. Tapi yang membuat gue menulispun adalah keresahan gue yang tidak mampu gue sampaikan kepada oranglain. Ketakutan gue tidak didengar. Ketakutan akan diabaikan. Ketakutan hanya dianggap sebagai bayangan atau asap yang akan menghilang dalam waktu yang cepat.

Gue mau mengucapkan terimakasih yang terdalam dari diri gue untuk siapapun yang suka membaca tulisan gue. Entah teman, atau orang yang enggak gue kenal, percayalah setiap ada pesan masuk yang menyemangati gue dalam menulis, meminta gue untuk jangan berhenti, bahkan sampai beberapa ada yang menyampaikan bahwa kalian termotivasi, itu yang membuat gue masih bisa bertahan hari ini. Yang membuat gue untuk tetap menjalani garis takdir yang udah digariskan untuk gue. Yang membuat gue untuk tetap kuat, bisa senyum dan bilang di depan kaca bahwa semuanya bakalan baik-baik aja. Semuanya, terimakasih.

Dan untuk siapapun yang merasa tidak didengarkan, bahkan sampai ada di titik lelah dengan kehidupan dan mulai muncul perasaan ingin mengakhiri semuanya karena menyerah, menulislah. Gue yakin, tulisan lo akan ditemukan. Tulisan lo akan menunjukkan lo kepada orang-orang yang bisa mengerti atau setidaknya berusaha untuk memahami.

Sekali lagi, terimakasih. Semoga hari ini menyenangkan. Semoga yang sedang sedih dikuatkan. Semoga yang sedang berbahagia bisa menyebarkan kebahagiaannya seluas-luasnya.



Penuh syukur,
Khalda Fadhilah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.