Tidak pernah mudah dengan menjadi berbeda
Saat ini saya tengah ada di sebuah kafe kopi kecil dekat rumah. Menenangkan diri walau awalnya harus berbohong pada mamah.
Tadi siang entah mengapa pikiran saya tiba-tiba dirasuki oleh sesuatu yang membuat saya ketakutan. Ketakutan dan bertanya-tanya lebih tepatnya.
Iya. Saya takut dengan karena menjadi diri saya sendiri, saya tidak bisa sukses seperti orang di kanan dan kiri saya. Hanya karena saya berbeda, nantinya tak akan ada satu perusahaanpun yang mau menerima saya untuk bekerja bersamanya. Saya takut di masa depan nanti saya tak bisa menjadi apa-apa ketika saya menjadi diri saya sendiri.
Diri saya yang ternyata lebih suka menjalani kehidupan dan segala hal sendiri. Kemana-mana sendiri. Menjalani aktifitas sendiri. Membatasi gerak dan hadirnya oranglain dengan porsi yang sedikit. Lebih sering bersama buku, menuliskan pikiran yang kusut, serta dipeluk oleh segelas kopi yang tak pernah memukul.
Tapi tidak.
Tidak dan tak akan pernah mudah. Jalannya lebih berliku disana. Orang tua saya bahkan tidak cukup mengenali saya dengan baik. Mereka bahkan tahunya saya adalah anak yang cukup luwes dalam bersosialisasi. Mudah mendapat dan akrab dengan teman. Senang berinteraksi dengan banyak orang.
Bukan hanya itu, keluarga besarpun, bahkan. Mereka menganggap jika selalu sendirian berarti ada yang tidak beres dengan hidupnya. Padahalkan bisa jadi memang ingin sendiri dan tidak melibatkan siapa-siapa saja.
Melihat keadaan keluarga, lingkungan, latar belakang pendidikan, bahkan kehidupan media sosial, sulit rasanya bagi saya untuk bisa menjadi diri saya sendiri.
Tapi sayapun terlalu enggan untuk memakai topeng. Terutama dalam jangka waktu yang tak sebentar. Itu membuat saya lelah karena saya harus melakukan aktifitas sembari berpura-pura.
Sayangnya saya tidak memiliki pilihan lain.
Jadi, saya saat ini hanya berjalan ke depan tanpa tatapan dan arah tujuan yang jelas. Saya tidak tau kaki ini akan membawa hidup saya kemana. Mata saya tidak ada lagi semangat dan binar tujuan disana. Saya hampa. Tidak memiliki motivasi apa-apa untuk berjalan di jalan yang bernama kehidupan ini.
Tidak ada siapa-siapa. Sepi. Keadaan ini juga membuat segalanya lebih sulit saya lalui. Saya tak bisa membaginya dan bercerita pada siapa-siapa karena saya tahu berceritapun tak akan serta merta membuat mereka, siapapun yang mendengar saya akan mengerti keadaan dan apa yang saya rasakan. Bagaimana bisa merasakannya jika mereka saja tak tahu bagaimana rasanya berjalan di jalanan yang sesepi ini bukan?
Untukmu yang selalu berpikir bahwa menyenangkan menjadi berbeda, ketahuilah bahwa banyak hal yang tak mudah harus dilalui tanpa bantuan siapa-siapa.
Komentar
Posting Komentar