Dibaca syukur, dilewat yaudah.

Disclaimer: Ini bukan tulisan biasa. Tapi dibilang luar biasa juga biasa aja. Akan banyak ditemui rant dimana-mana. Akan banyak bersama kata-kata kasar serta ungkapan yang tidak sopan juga. 

Saat ini, gue tidak lagi berani berekspektasi, membayangkan, berimajinasi, bahwa tulisan gue dibaca oleh orang. Apalagi sampai punya buku atau karya. Apalah gue yang hanya remahan kenthank. Yang kebanyakan tulisan isinya ngomel dan mengumpat doang tanpa diiringi oleh kemampuan menyampaikan makna yang dalam serta membekas pada para pembaca.

Apa yang gue tuliskanpun kebanyakan hal-hal yang klise. Sebuah cerita atau mungkin pendapat yang sudah sering dipikirkan oleh banyak orang. Atau kisah menyedihkan yang padahal nggak seberapa menyedihkan juga. Hanya saja, gue nggak mengenal dan mengetahui tulisan mereka aja jadinya gue merasa kegeeran bahwa guelah yang menuliskannya pertama kali di dunia. 

Ya. Bangun tidur siang ini mood gue amat sangat ancur parah. 

Lagi-lagi, gue mempertanyakan kemampuan dan segala hal mengenai tulisan yang selama ini gue anggap akrab dengan kehidupan karena gue lakukan ini sejak gue berusia dua belas. Saat gue menyelesaikan sebuah novel yang gue baca ulang ke kali delapan. Saat gue merasa pengen nyoba dan menciptakan alur dalam kepala. Coret-coret. Yang sayangnya, selalu berakhir teronggok begitu saja karena gue yang tidak percaya akan mereka. Tulisan gue sendiri.

Sejenak, ketika gue mengambil air wudhu setelah menyalakan keran, semuanya tampak berkelebat dalam kepala. Seperti ditampar oleh banyak hal secara bersamaan. Raga gue ada di wc dan sedang melakukan gerakan wudhu untuk kemudian sholat dzuhur yang telat karena ketiduran, tapi pikiran gue sedang disiksa dengan sedemikian rupa entah oleh sesuatu yang nggak gue tau itu apa. Tepat di depan mata gue, gue seperti sedang menyaksikan reka ulang adegan dimana gue mengorbankan banyak waktu gue untuk hal yang sampai saat ini gue kerjakan dan gue yakini akan menghasilkan suatu hal, tapi pada nyatanya gue masih tidak mendapatkan apa-apa sekarang.

Apalagi yang kurang? Harus sematang apa agar dunia melirik ke arah gue barang sejenak? Harus bagaimana lagi, apa yang dikorbankan, dan berapa lama lagi untuk gue terus berjalan tanpa adanya kepastian apakah hal ini akan menjadi suatu hal yang sia-sia atau tidak?

Kepastian.

Halah, bacot.

Sebelum memulai gerakan sholat gue sempat tergugu sejenak di depan kaca. Memandangi muka gue yang setengah basah karena air wudhu yang tidak gue lap. Biar ntar kalo ditanya orang resep kecantikan gue apa, gue bisa jawab make air wudhu doang. Itupun kalo ada orang yang nanya. Karena, lagi-lagi, yaelah siapa sih aing make bakalan ada yang nanya sebegitu hal yang nggak penting?

Setengah mengkasihani, setengahnya lagi memaki-maki. Kalo boleh jujur saat ini, sebenernya berperang terus-menerus dengan diri sendiri capeknya lebih berkali-kali lipat daripada kalo sama oranglain. Ketika lo berkonflik sama oranglain, lo bisa pergi ke banyak opsi tempat untuk kabur agar tidak menemui dia lagi. Sedangkan kalo konfliknya sama diri sendiri, ke ujung duniapun lu pergi, dia bakalan tetep ngikut. Ngekor. Kecuali kalo lo mati suatu saat nanti.

Mungkin terlalu apatis ya untuk usia semuda gue menanggapi hal ini. Gue juga nggak ngerti si kenapa gue akhir-akhir ini jadi lebih sering terkekang dan merasa terus-menerus bergelut dengan diri gue sendiri. Padahal gue tau itu capek. Padahal gue tau ini memakan banyak energi yang nggak berguna buat kehidupan gue. Tapi masih aja susah buat berenti.

Bhay gue capek idup tapi harus belajar studi Islam sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

Mencoba melihat hal positif dari yang negatif #cielah

Lembar kerja siswa (LKS)