Menghargai Perbedaan. (katanya)




Gue mau cerita.

Pernah, waktu itu gue mau pergi sama temen make gr*bcar. Kebetulan, gue dan temen dapet supir bapak-bapak muda yang ngajakin ngobrol hampir sepanjang perjalanan. Awalnya cuma sekedar dia aja curhat. Katanya dulu dia supir angkot lah, bla-bla lah, dia bilang dia asal Jawa yang merantau lah. Nyampe akhirnya dia mulai ngeluh satu hal.

Mahasiswa asing.

Fyi, di kampus gue (terutama fakultas gue) memang, ada beberapa mahasiswa asing yang juga mengenyam pendidikan disini. Tapi, meskipun ada mahasiswa asing bule putih, yang dimaksud disini lebih ke mahasiswa asing yang kulitnya lebih gelap daripada kita, orang Indonesia. 

Bapak ini ngeluh-ngeluh ke gue dan temen gue tentang mahasiswa asing berkulit gelap tak bersalah ini. Mengucapkan segala hal yang bikin gue meringis mendengarnya. Kata-katanya jahat untuk diucapkan pada orang hanya karena dia berbeda dari kita. Berbedanyapun dalam hal yang bahkan tidak pernah dia minta pada Tuhan untuk dilahirkan demikian.

Gue jadi keinget kata-kata yang pernah gue denger entah darimana; orang Indonesia itu menahan Papua karena hanya ingin sumber daya alamnya aja. Tapi tidak dengan orang-orangnya.

Kejadian serupa juga gue saksikan saat gue keluar kost mau beli makan. Waktu itu, di kejauhan gue liat mahasiswa asing ini mereka lagi jalan barengan. Dan para pedagang kaki lima pada sibuk ngeliat ke arah mereka dengan tatapan aneh dan mengintimidasi seperti mereka adalah makhluk yang paling aneh di muka bumi. Kemudian abis natap dengan tatapan nggak enak gitu, mereka bisik-bisik ke temennya. Yang diakhiri dengan tertawa dengan sangat jelas bahwa mereka sedang menertawakan manusia yang mereka anggap 'berbeda' dari mereka.

Gue yang waktu itu kebetulan lewat tapi melihat pemandangan yang nggak enak cuma bisa mendesis doang sambil mencoba bertingkah normal. 

Kejadian yang serupa juga masih kadang gue lihat di kelas. Entah kenapa, gue merasakan atmosfer nggak enak kalo temen sekitar gue lagi ada di ruang yang sama bersama mahasiswa asing ini. 

Gue pernah kelepasan ketawa juga, dan gue tau itu salah. Gue tau itu adalah hal yang amat sangat menyakitkan seandainya gue ada di posisi mereka, mahasiswa asing yang selain harus fokus sama kuliah, jauh dari keluarga dan orangtua, juga harus bisa dealing with unhealthy environment yang ada di sekitar kita. Gue tau gimana nggak enaknya bergelut dan berperang sama diri sendiri karena merasa nggak bisa diterima sama society. 

Tapi gue masih diem. Nggak mampu berbuat apa-apa buat mengubah semua yang gue lihat tadi selain hanya bertanya-tanya di kossan sendiri.


Katanya, kita semua paham bahwa Indonesia itu beragam. Tapi kok, baru ketemu sama yang beda dikit aja langsung kayak gini ya?

Katanya, kita semua harus menghargai segala hal yang Tuhan ciptakan. Tapi kok, prakteknya mana?

Katanya, kita semua harus bisa saling menjaga lisan agar tidak menyakiti saudara seiman. Nyatanya, bagaimana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

Mencoba melihat hal positif dari yang negatif #cielah

Lembar kerja siswa (LKS)