Menjadi Bahagia

Di tulisan ini, gue nggak mau banyak basa-basi, jadi mari langsung aja mulai ke inti.

Bukan berarti gue sok tua, cuma rasanya semakin lama menjalani hidup, nggak jarang gue ngerasa putus asa. Mau berenti. Mau nyerah. Rasanya susah buat jadi bahagia. Lupakan mengenai mimpi-mimpi besar dan cita-cita di masa depan. Intinya, semakin lama, keinginan gue semakin sederhana. Gue cuma pengen hidup bahagia.

Gue nggak pernah cerita, curhat atau apapun itu ke oranglain karena sebelum gue ngelakuin hal itupun gue pasti tau, yang ada alih-alih didengerin, gue pasti akan diceramahin. Pasti disuruh nonton video-video ceramah ustad-ustad yang udah mulai banyak menjamur dan banjir di semua sosial media. Oke, itu nggak ada salahnya juga si. Cuma, kalo lagi dalam keadaan mumet dan depressed itu rasanya susah buat menerima sesuatu. Boro-boro konten ceramah gitu, materi kuliah aja suka kadang nggak masuk.

Oh, tidak. Untuk opsi mengakhiri hidup, meskipun nggak jarang kepikiran gitu, tapi gue masih ada dalam level pengecut untuk melakukan hal itu. Utamanya karena gue tau dalam agama gue, yang bunuh diri akan auto masuk neraka. Nah ya seenggaknya, kalo dalam hidup gue sekarang sengsara, gue nggak mau di kehidupan selanjutnya gue kayak gitu juga. Meskipun nyampe sekarang masih susah rasanya buat berhenti maksiat dan jadi tobat, tapi seenggaknya gue nggak melakukan dosa yang bener-bener bisa bikin gue auto masuk neraka tanpa masih ada kesempatam buat memperbaikinya biar ntar gue bisa enak dan hidup sejahtera di surga.

Jadilah, gue lari ke internet. Gue jadi sering youtube-an. Nyari how to become happier. Nangis-nangis bombay. Menatap langit dengan tatapan nanar menyedihkan. Sampe gue ada di titik dimana gue merasa hidup gue singkat. Dan gue nggak mau hidup gue sia-sia dan guenya betah lama-lama dalam lubang kesedihan.

Iya. Hidup cuma sebentar itu benar adanya. Bukan cuma mitos doang. Bukan sekedar dongeng belaka. Kalo dihitung-hitung, setengah dari usia yang kita punya kita pake buat tidur. Sisa waktu buat bahagia, mewujudkan mimpi yang ada, paling cuma 20% dari sisa umur yang gue punya. Itupun kalo umur gue panjang. Yah doain aja. 

Gue nggak mau nyesel kemudian. Gue tau gimana rasa nggak enaknya nyesel tapi gue nggak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Ya mungkin hidup ini nggak gampang. Masalah juga nggak bisa semuanya gue selesaikan. Tapi seenggaknya, kalo gue melakukan yang terbaik yang gue bisa sekarang, di masa tua nanti gue nggak akan penasaran. Gue akan merasa cukup dan puas dengan apa yang ada.

Saat ini, gue sedang melatih diri gue buat tetep bisa positif setiap harinya. Ini susah. Beneran. Tapi kalo hal itu masih tergolong dalam kebaikan, ya kenapa enggak dilakuin aja kan ya?

Gue menganggap setiap hari yang datang adalah hari terakhir gue. Dan kesempatan yang ada adalah kesempatan terakhir gue. Gue akan mencoba menjadi lebih berani. Bilang apa yang mau gue bilang. Kasih apa yang mau gue kasih. Karena gue nggak tau gue bisa hidup nyampe kapan. Seenggaknya, kalo gue mati nanti gue nggak mau mati dalam keadaan menyesal karena nggak menjalani hidup gue sebaik yang gue bisa.


How about you?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

A Letter For Myself

Mengurai isi kepala sebelum ngerjain tugas.