Sendirian, berdua, dan bergerombol banyakan #3

Gue tau ini kepagian, tapi daripada gue ntar pas di ujung hari keburu mager nulis, lebih baik gue nulis sekarang meskipun yang gue tulisin adalah peristiwa lama.

Entah peristiwa lama atau luka lama lebih tepatnya. Gue bingung mesti memberi judul atau tema apa pada tulisan. Jadi, yodah mari kita liat aja apa yang akan gue tuliskan selanjutnya.

Sendirian. Bagi oranglain adalah suatu keadaan yang aneh. Ada yang nggak beres. Lagi kenapa-napa. Lagi ada masalah yang disembunyikan dan terpendam. Tapi, untuk gue, justru sebaliknya.

Kalo lo melihat gue ada dalam suatu gerombolan atau kelompok manusia dalam frekuensi lama dan terus-terusan, gue akan mewajari dan mengiyakan tindakan yang gue lakukan itu aneh. Tapi, bukan berarti gue nggak butuh manusia sama-sekali sehingga tidak mengharuskan gue untuk bersosialisasi. Tidak. 

Gue hanya lebih nyaman, lebih betah, lebih merasa aman ketika gue sendirian. Dan seringkali, perasaan itu jumlah porsinya lebih banyak daripada saat gue membutuhkan orang.

Mungkin capek. Mungkin lelah. Mungkin muak sama yang bergerombol tapi sementara atau bahkan sekedar berdua tapi fana. Gue pernah menangisi dengan amat sangat kedua hal ini dalam rentang waktu yang berdekatan. Ketika gue amat sangat ada di titik percaya dan memutuskan untuk melebur bersama mereka sepenuhnya, ternyata, mereka sendiri yang membuktikan pada gue bahwa pada akhirnya, seerat apapun kita bersama seseorang, kita akan tetap berakhir sendirian.

Sekarang, meskipun gue sudah ada partner yang bisa diajak bicara kapan aja saat dia luang, tapi gue hanya berkomunikasi di saat-saat tertentu doang. Gue hanya takut ketergantungan. Takut nyender keenakan. Bukan berarti gue nggak percaya sama dia atau gimana, cuma hati manusia emang bisa segampang itu buat berubah dan ketika mungkin suatu saat nanti gue ada dalam kondisi terburuk sama dia, gue nggak akan sebegitu jatohnya kayak sebelumnya.

Jatoh nyampe gue merasa nyaris gila. 

Beberapa hal yang kita anggap sepele dan gampang, nyatanya pada praktek beberapa orang itu adalah suatu hal yang diperjuangkan mati-matian. Sekitar 3 bulan lalu gue meronta-ronta mencari alasan untuk tetap bertahan dan bernafas. Gue ngeri sendiri sekarang mikirinnya. Tiap nyebrang, bayangannya pengen ditabrak. Tiap jalan, dalam hati berharap kecelakaan. Yang ada di otak cuma gue nggak mau ngelakuin apa-apa, gue hanya mau nyerah, tapi takut sama dosa bunuh diri dan emang dilarang juga sama agama.

Next time kalo gue nggak mager gue akan menceritakan tentang ini lebih detail. Untuk tulisan hari ini kayaknya dicukupkan nyampe sini aja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang sunda yang nyaman make ‘gue’

Mencoba melihat hal positif dari yang negatif #cielah

Lembar kerja siswa (LKS)